Latest News

Showing posts with label Yesus Kristus. Show all posts
Showing posts with label Yesus Kristus. Show all posts

Tuesday, January 22, 2019

Iman dari : Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus


Iman dari : Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus
Iman dari Allah Bapa
Ketika ada pendeta berteriak: “Asal Anda beriman, Anda sembuh!” Iman seperti apa yang ia pikirkan? Ada orang belum Kristen yang berkata: “Saya percaya,” maka ia segera minta Tuhan menyembuhkan. Apakah ia akan sembuh? Apakah karena seseorang beriman, maka Tuhan berkewajiban menyembuhkan? Apa itu iman? Apakah karena seseorang mengaku beriman kepada Tuhan, maka Tuhan berhutang untuk harus menyembuhkan dia? Banyak orang Kristen berbicara tentang iman, menganggap diri sudah mengerti tentang iman, tetapi ketika ditanya secara mendalam dan teliti, mereka sulit memberikan jawaban yang akurat sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Saya berharap banyak orang Kristen yang bukan sekedar berbicara tentang iman tanpa mengerti iman itu apa dan berasal dari mana. Apakah iman berasal dari manusia, atau iman berasal dari Tuhan? Apakah asal kita yakin, iman itu muncul dengan sendirinya? Ataukah harus Allah yang mendorong dan melahirkan iman?

Sepintas kita membaca Alkitab, sepertinya dituliskan bahwa: “Karena imanmu, maka hal itu terjadi.” Apakah itu berarti iman berasal dari orang berdosa? Setelah Adam jatuh ke dalam dosa, apakah keturunannya otomatis mempunyai iman? Atau jika tidak demikian, dari mana iman itu berasal?

Orang Reformed menekankan bahwa: “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Lalu, bagaimana dengan orang yang belum pernah ke gereja, orang bukan Kristen, orang yang sama sekali belum pernah mendengarkan firman Tuhan? Apakah mereka bisa memiliki iman? Apabila kita sembarangan menjawab, kita sangat mungkin akan terjebak oleh pikiran kita sendiri dan tidak kembali kepada firman Tuhan. Ada orang yang mengatakan bahwa theologi Reformed itu sesat, karena berpikir menurut pikiran mereka sendiri yang mereka anggap benar, sehingga yang berbeda dari mereka pasti salah. Orang mengatakan: “Stephen Tong sesat!” atau mengatakan: “Stephen Tong tidak mempunyai Roh Kudus.” Tetapi mereka juga bingung, mengapa orang yang sesat dan tidak ada Roh Kudus bisa mempertobatkan begitu banyak orang kaya, orang pandai, bahkan orang yang begitu kompleks pemikirannya, menjadi orang yang setia kepada firman Tuhan dan mau belajar firman Tuhan dengan baik. Mereka menjadi goncang dan takut sekali jika berhadapan atau berdiskusi tentang kebenaran Firman. Kalau seseorang menganggap diri benar, padahal ia tidak benar, lalu bisa digoncangkan oleh orang yang dianggap tidak benar olehnya, itu berarti ada harapan untuk dia bisa kembali. Tetapi kalau dia sudah tidak goncang dan membiarkan itu semua, maka ia tidak mungkin untuk bisa kembali.

Ada sekelompok orang yang ketika mendengar berita dari theologi Reformed, ia mulai merasakan perbedaannya. Dan hal itu mendorong mereka untuk mulai mempelajari firman Tuhan dengan serius dan intensif sekali. Akhirnya mereka mulai menyadari kebenaran firman Tuhan yang begitu indah. Ketika seseorang mau taat pada Firman, mau belajar dan rendah hati mengikuti kebenaran Firman, maka ia akan diubahkan. Orang-orang di Berea menjadi lebih pandai dari jemaat lainnya karena mereka bertekun menyelidiki firman Tuhan. Orang-orang mulai menyadari bahwa selama ini mereka hanya dipengaruhi oleh pendeta mereka, tanpa mereka sendiri secara serius belajar firman Tuhan. Akhirnya, dangkalnya dan sedikitnya mereka belajar firman Tuhan, menyebabkan mereka tidak mempunyai cukup waktu dan modal untuk secara serius menyelidiki firman Tuhan. Dan yang menyedihkan, banyak pendeta yang sendirinya juga sangat dangkal dan tidak cukup studi untuk bisa mempelajari firman Tuhan secara serius dan mendalam, sehingga tidak mampu memberikan interpretasi firman Tuhan yang akurat dan mendalam kepada jemaatnya. Saya rindu ada orang-orang Kristen yang mau setia belajar firman Tuhan, yang membaca secara teratur dari Kejadian hingga Wahyu beberapa kali di dalam hidupnya. Saya percaya ada orang-orang yang mau setia kepada Firman dan mau sungguh-sungguh taat pada Tuhan. Banyak pendeta yang banyak berbicara tentang Roh Kudus yang dia sendiri justru paling tidak mengerti tentang Roh Kudus. Banyak orang suka pemberitaan firman Tuhan disesuaikan dengan keinginannya. Kalau berita firman Tuhan begitu keras dan berlawanan dengan keinginan dan pikirannya, maka ia marah dan ia meninggalkan gereja itu. Ia mencari gereja lain, bukan karena kebenaran, tetapi karena cocok dengan dirinya. Inikah iman Kristen? Inikah yang disebut sebagai kepercayaan atau beriman kepada Kristus?

Iman sepertinya adalah satu hal yang sederhana, tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Iman itu mengalahkan dunia. Iman itu mengakibatkan setan gemetar. Iman itu menjadikan semua yang terbatas harus tunduk pada yang tak terbatas, sehingga yang terbatas itu menjadi hina, kecil, remeh, dan terlihat kekurangannya. Ini bukan hal yang menyenangkan bagi manusia berdosa. Iman adalah suatu penerobosan.

Ada dua ekor ayam yang masih di dalam cangkangnya dan hampir menetas. Anak ayam yang pertama berkata pada yang kedua, bahwa dunia ini begitu sempit, gelap, dan pengap. Dan ayam kedua menyetujui pernyataan itu. Namun, kemudian tiba waktu ayam pertama menetas, maka ia secara naluri mencucukkan paruhnya ke cangkangnya, dan pecahlah cangkangnya. Maka kini ia melihat dunia yang begitu luas, yang terang, dan penuh warna-warni, segar luar biasa. Ia mengatakan itu kepada ayam kedua, dan kini ayam kedua tidak bisa menerima pernyataan ayam pertama. Ia beranggapan bahwa ayam pertama sudah menjadi gila, karena tidak tahan di dalam kondisi yang begitu sulit. Menerobos kulit itulah suatu penerobosan. Itulah iman.

Iman adalah penerobosan akan semua keterbatasan kita. Keterbatasan keluarga, keterbatasan orang tua, keterbatasan kemampuan kita, keterbatasan pengetahuan, keterbatasan pendidikan, keterbatasan suku, budaya, dan berbagai hal lain yang membuat kita tidak bisa menaati dan mengerjakan rencana Allah yang besar di dalam dan melalui diri kita. Ketika kita bisa menerobos keluar, melewati yang terbatas, dan masuk ke dalam kekekalan, kita baru bisa melihat sesuatu yang melampaui dunia terbatas ini.

Iman dari Allah

Lalu iman itu berasal dari mana? Apakah dari dalam diri manusia berdosa itu sendiri? Atau apakah iman itu tumbuh di dalam diri kita? Jika tumbuh, seharusnya ada bibit yang ditanam, yang menjadikan iman itu bisa bertumbuh. Dari mana bibit iman itu? Dalam hal ini, theologi Reformed berbeda total dari pandangan theologi yang lain. Theologi Reformed ingin kita betul-betul masuk dan mengerti kebenaran firman Tuhan. Jika orang mengatakan bahwa iman berasal dari tekad manusia itu sendiri, berarti manusia berdosa tidak membutuhkan pertolongan dari luar. Ini bukan ajaran Alkitab.

Tuhan Yesus berkata kepada perempuan itu, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel” (Matius 8:10). Sepintas sepertinya iman itu berasal dari manusia itu sendiri. Dan sepertinya, pujian Tuhan Yesus menunjuk kepada kekuatan dan kemampuan manusia itu. Sebenarnya tidak demikian. Orang ini telah berkali-kali mendengarkan berita Firman dari Tuhan Yesus sendiri. Sangat mungkin ia bukan baru hari itu mengenal Yesus. Maka konsisten dengan apa yang dinyatakan oleh Alkitab, sebenarnya imannya datang dari pendengaran akan Firman. Ia telah mendengar Firman, dan kini iman itu telah bertumbuh dan mulai nyata keluar. Dari hal ini, kita bisa mempelajari hal utama:

Iman berasal dari Tuhan Allah. Di dalam surat Efesus 2:8, dikatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Secara lebih jelas dapat dikatakan, bahwa kita diselamatkan karena anugerah dan melalui iman. Tuhan Allah menurunkan anugerah-Nya kepada kita, dan manusia yang menerima anugerah itu menyatakan iman. Dan iman ini adalah pekerjaan Tuhan Allah juga. Iman itulah yang kemudian menyelamatkan kita.

Iman Natural dan Iman Keselamatan

Lalu, apakah itu berarti terjadi kerjasama antara Allah dan manusia dalam hal keselamatan? Allah memberikan anugerah, dan manusia memberikan iman, barulah ada keselamatan. Konsep ini tidak benar, karena iman itu pun juga berasal dari Allah. Dan jika iman itu berasal dari Allah, apakah itu berarti saya boleh tidak beriman? Karena toh iman itu juga dari Allah, sehingga saya boleh merasa bahwa saya tidak diberi iman. Jadi, saya juga bisa merasa saya tidak mendapat anugerah dan tidak mendapat iman, sehingga saya boleh saja tidak beriman. Alkitab mengatakan tidak demikian. Tuhan sudah memberikan “bibit iman” di dalam setiap pribadi manusia. Ini yang disebut sebagai iman natural (natural faith), yang dibedakan dari iman yang menyelamatkan (saving faith). Ketika seseorang dicipta, di dalam dirinya ditanam benih iman. Sehingga di titik awal, manusia itu sudah mengetahui secara samar bahwa Allah itu ada. Dan di dalam dirinya juga telah diberikan anugerah secara umum, yang dikenal sebagai “anugerah umum” (common grace). Anugerah umum ini telah diberikan kepada manusia secara keseluruhan, tidak peduli Kristen atau tidak Kristen. Maka anugerah dan iman keduanya berasal dari Allah, itu semua adalah pemberian Allah.


Tetapi kini kita melihat satu langkah lebih lanjut. Ketika kita diselamatkan, Tuhan memberikan kepada kita anugerah yang khusus (special grace). Anugerah ini memberikan iman yang bukan merupakan jasa manusia. Bukan suatu kapasitas atau kemampuan manusia yang membuat manusia bisa diselamatkan. Itu semuanya hanya mungkin dilakukan melalui pemberian Tuhan Allah. Iman ini adalah iman keselamatan (saving faith).

Pemberian dan Penindasan Iman

Apakah karena manusia memiliki kualifikasi atau keistimewaan tertentu, sehingga Allah memberikan iman itu kepadanya, dan tidak memberikan kepada yang lain? Tidak. Tidak ada kualifikasi apapun pada manusia yang membuat Allah berhutang untuk harus memberikan anugerah dan iman. Semua itu semata karena kedaulatan dan belas kasih-Nya. Lalu, mengapa Tuhan menggunakan kedaulatan-Nya sehingga ada orang yang bisa menerima anugerah dan iman, sementara ada orang lain yang tidak? Orang yang tidak menerima anugerah harus menanggung hukuman karena telah menindas anugerah dan kebenaran natural yang telah diberikan kepadanya. Ini konsep penting di dalam theologi Reformed yang membutuhkan pemikiran dan ketekunan untuk bisa mengertinya. Dia tidak beriman bukan karena tidak diberi iman, karena iman itu sudah diberikan secara umum kepadanya, tetapi ia telah menindasnya. Murka Allah justru turun ke atas orang-orang yang tidak beribadah dan telah menindas kebenaran ini (Roma 1:18-19). Inilah kefasikan dan kelaliman manusia. Apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran melalui karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Allah adalah pencipta. Ia mencipta dunia ini dengan hikmat dan kebenaran-Nya. Ketika kita manusia menindas hal ini dalam diri kita, kita mulai melawan iman, melawan kebenaran, melawan suara Allah yang berfirman kepada kita. Akibatnya kita akan berhadapan dengan penghakiman-Nya. Maka kita harus menyadari bahwa iman itu berasal dari Allah. Anugerah dan iman yang dari Allah (Bapa) boleh membawa kita kepada keselamatan. Inilah konsep asal usul iman yang pertama. Nanti kita akan melihat juga bahwa iman berasal dari Yesus Kristus dan Roh Kudus. 
Iman di dalam Kristus

Kita telah belajar mengenai iman berasal dari Allah Bapa. Kini kita melihat aspek kedua, yaitu iman berasal dari Yesus Kristus. Yesus Kristus yang menciptakan iman dan Yesus Kristus yang menyempurnakan iman di dalam sepanjang hidup kita mengikuti Dia. Di dalam Ibrani 12:1-2 dituliskan bagaimana kita memandang kepada Yesus sebagai sumber iman, Yesus yang mengadakan dan menggenapkan iman, dan Dia kemudian menjadi teladan bagi kita. Dia sendiri mengabaikan penghinaan, tekun memikul salib, dan akhirnya menggantinya dengan sukacita yang disediakan bagi Dia, serta sekarang duduk di sebelah kanan Allah. Saya ingin memberikan dua butir berkenaan dengan tema ini.

1. Memandang pada Yesus

Memandang Tuhan Yesus karena Dia adalah yang mengadakan dan yang menggenapkan iman. Di dalam terjemahan lain dituliskan: “He starts, He creates faith and He accomplishes and He guides us until the end.” Dia yang menciptakan iman, dan Dia yang memimpin kita serta menggenapi iman itu dalam diri kita. Ia yang memulai dan Ia juga yang mengakhiri. Dia yang mengadakan dan menyempurnakan, Dia yang menciptakan dan yang menggenapi. Iman berasal dari mana? Ayat yang kita baca menyatakan bahwa iman berasal dari Kristus. Ada orang belum percaya yang diberitahu bahwa jika ia percaya akan sembuh, maka ia pasti sembuh. Lalu ia mengatakan, “Ya, saya percaya.” Ia berharap segera sembuh. Percaya ini berasal dari mana? Kalau percaya ini sekedar dari dirinya sendiri, dan ia sendiri yang mau percaya, maka itu pasti bukan iman Kristen. Iman yang pertama-tama harus berasal dari Bapa, dan kemudian kita melihat bahwa iman itu harus dimulai dan diakhiri di dalam Kristus. Yang mengadakan iman dan yang menyempurnakan iman adalah Kristus sendiri.

2. Yang menyempurnakan iman

Kristus bukan hanya memulai iman, tetapi Ia juga yang menggenapkan dan menyempurnakan iman. Bukan hanya memandang kepada Kristus sebagai sumber dan awal iman, tetapi juga di dalam Dia kita mengakhiri dan menggenapkan iman kita. Maka tidaklah salah jika para murid Kristus meminta kepada Kristus untuk menambahkan iman kepada mereka, karena mereka kurang iman. Iman bukan disempurnakan oleh diri kita sendiri, apalagi melalui semua yang kita kerjakan menjadi jasa iman. Memohon kepada Kristus untuk ditambahkan iman, atau sesuai dengan tema kita, yaitu agar iman kita boleh disempurnakan, adalah doa yang benar. Tidak ada seorang pun yang sempurna imannya. Di dalam hidup, terkadang saya merasa begitu sulit bekerja dengan orang yang tidak beriman. Semua terlihat begitu negatif, semua menjadi tidak mungkin, semua sulit dikerjakan, semua seolah-olah sia-sia. Saya telah menjadi yatim sejak usia tiga tahun dan hingga saat ini saya sangat jarang mengatakan sesuatu itu sulit, sesuatu tidak bisa dikerjakan, atau tidak mungkin. Saya selalu mencoba belajar bersandar pada Tuhan dan mohon Tuhan memberikan kekuatan dan pencerahan untuk menolong saya melakukan itu. Bukan berarti saya mengabaikan kesulitan yang ada. Saya sangat menyadari banyak hal sangat sulit. Namun, kita harus belajar bisa mengalahkan kesulitan dengan kekuatan yang Tuhan berikan kepada kita. Ini yang disebut iman. Jika kita adalah orang Kristen, maka kita harus belajar beriman dengan benar. Sayang kalau kita mengaku sebagai orang Kristen tetapi setiap hari hidupnya tidak beriman, lalu menertawakan orang yang beriman.

Iman bukan nekat, tetapi iman juga bukan pengecut. Di dalam banyaknya kesulitan kita bisa belajar menerobos keluar. Menyelesaikan dan melewati setiap kesulitan, betapapun besarnya, adalah iman. Kita sering kali menyanyikan bahwa iman memberikan kemenangan, tetapi kehidupan kita sendiri penuh dengan kekalahan. Benarkah kita percaya pada Kristus? Benarkah iman kita di dalam Kristus adalah iman yang menyempurnakan? Iman yang memberikan kemenangan? Jika kita percaya bahwa iman kita memberikan kemenangan, kita bisa menerobos kesulitan-kesulitan yang kita hadapi. Itu berarti kita percaya kepada Allah yang betul-betul memberikan kekuatan kepada kita.

Ada orang yang mengatakan pada saya beberapa tahun lalu bahwa GRII tidak mungkin mendapatkan izin bangunan. Saat itu saya diam saja, hanya berdoa kepada Tuhan. Sekarang terbukti siapa yang benar siapa yang salah. Yang benar adalah Tuhan, yang salah adalah orang yang tidak percaya. Kita yang bersandar pada Tuhan, kita akan melihat kebenaran itu. Saya ingin menjadi pemimpin suatu gerakan yang beriman, tetapi itu tidak mudah. Iman bukan berasal dan bersumber dari manusia, tetapi dari Tuhan. Dan iman yang diberikan kepada seseorang selalu dianggap sebagai suatu mimpi yang tidak mungkin dilakukan. Kita perlu belajar dari Abraham, ketika diberitahu, ia setia dengan apa yang Tuhan katakan. Setiap kali diberitahu satu kalimat, ia segera memegang satu kalimat itu. Inilah iman yang sejati. Abraham sangat berbeda dengan istrinya. Istrinya mencurigai kebenaran perkataan Tuhan. Ia menertawakan firman Tuhan. Ia menganggap apa yang dikatakan Allah tidak mungkin, karena tidak sesuai dengan pikiran dan pengalaman manusia. Mana mungkin Abraham tahun depan akan bisa memiliki anak jika Sara sudah tidak mengalami ‘datang bulan’ lagi? Itu sesuatu yang tidak mungkin. Apa yang Tuhan katakan adalah sesuatu yang tidak mungkin. Maka istri Abraham menertawakan apa yang Allah katakan. Tetapi ketika Allah menegur, ia menyangkal dan tidak mau mengakui. Ini sikap yang tidak benar. Sudah tidak mau percaya, tidak beriman, masih menyangkal. Mungkin dalam beberapa aspek, kita bisa juga bersikap seperti Sara. Bukan hanya tidak percaya apa yang Allah katakan, tetapi juga menertawakannya, dan sekaligus menyangkal ketika Tuhan menegur kita. Mungkinkah di dalam sebuah negara yang mayoritas masyarakatnya bukan Kristen bisa mendapatkan izin untuk mendirikan sebuah gereja yang besar? Mungkin dalam pikiran banyak orang, itu adalah sesuatu yang mustahil. Tetapi bagi Tuhan itu mungkin. Orang beriman akan berkata: mungkin! Bilakah waktunya? Memang kita semua tidak tahu, tetapi itu tetap mungkin. (Kini kita tahu bahwa gedung ini sudah terealisasi dan berdiri dengan megah, didedikasikan kepada Tuhan dalam Kebaktian Dedikasi pada tanggal 20 September 2008 yang lalu, di Jl. Industri, Kemayoran, Jakarta, red.). Iman memiliki banyak sekali varian dan aspek. Ada iman yang menyelamatkan, iman bahwa Tuhan memelihara kita, atau iman di dalam menghadapi kesulitan, dan lain-lain.

Seorang Inggris, George Müller memelihara anak-anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh bapak dan ibu mereka, atau anak dari pelacur yang tidak mau memelihara mereka, atau anak orang yang terlalu miskin sehingga tidak sanggup lagi memelihara mereka. Anak-anak terbuang ini ia terima dan pelihara. Dalam kondisi yang paling berat, ia pernah memelihara 1.000 anak yatim piatu. Ia harus memberi makan seluruh anak-anak itu. Ia sendiri bukan seorang yang kaya raya. Terkadang ia tidak tahu dari mana ia memperoleh roti untuk memberi makan anak-anak tersebut. Tetapi ia sungguh beriman kepada Tuhan. Ia hanya berlutut dan memohon kepada Tuhan agar Tuhan masih berkenan memberi makan anak-anak ini. Kita terkadang memelihara dua anak saja sudah sulit luar biasa. Bisa kita bayangkan betapa susah dan sulitnya George Müller ketika harus mengasuh dan memelihara 1.000 orang anak setiap hari. Suatu hari petugas dapurnya memberitahukan kepadanya bahwa sudah tidak ada makanan sama sekali. Ia tidak tahu bagaimana memberi makan anak-anak untuk makan siang mereka. Jika pukul 12 siang bel dibunyikan dan anak-anak berlarian ke ruang makan, apa yang akan diberikan kepada mereka? George Müller ketika mendengar hal itu, ia masuk ke kamarnya, berlutut dan berdoa kepada Tuhan: “Tuhan berikanlah makanan kepada anak-anak ini, aku beriman kepada-Mu.” Tetapi bagaimana? Jika diberikan tepung, saat itu sudah pukul 10 pagi, tidak mungkin ada waktu untuk membuat roti. Tetapi ia tetap beriman. Ia keluar dari kamar, dan memerintahkan untuk tetap membunyikan bel tepat pukul 12 siang. Ketika pegawainya bertanya, apa yang akan diberikan nanti ketika anak-anak sudah di ruang makan, maka George Müller menjawab: “Tuhan akan menyediakan.” Mungkin pegawai itu akan keluar dan berkata kepada teman-temannya, “Wah, orang tua itu susah diajak bicara. Mustahil kita membunyikan bel makan pukul 12 siang sementara kita tahu persis bahwa sama sekali tidak ada makanan yang bisa kita suguhkan. Tapi memang kita tidak bisa bicara dengan orang tua itu.” Ketika pukul 12 siang, pegawai itu benar-benar membunyikan bel dan ia ingin melihat bagaimana caranya George Müller akan menghadapi anak-anak yang kelaparan sambil tidak ada makanan sama sekali. George Müller masuk ke ruang makan, anak-anak juga sudah masuk ke ruang makan, dan mereka dengan tertib lalu berdoa. Namun, mereka heran karena tidak ada makanan yang tersuguh di meja makan. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Beberapa kereta membawa roti berhenti di depan rumah itu. Orang yang menghantar menanyakan apa benar ini rumah George Müller dan betul-betul merupakan rumah panti asuhan. Setelah dikonfirmasikan, maka ia memberitahukan bahwa ia diminta seorang kaya untuk mengantar roti itu tepat pukul 12 siang ke rumah itu. Maka seluruh anak itu bisa makan sampai kenyang. George Müller berlutut dan berdoa: “Tuhan, Engkau adalah Allah yang hidup!” Jangan ikut-ikut cara George Müller jika saudara bukan orang yang beriman sungguh ke dalam Kristus, nanti engkau akan mengalami hal yang menakutkan. Engkau harus memupuk imanmu berpuluh-puluh tahun di hadapan Tuhan sampai kekuatan yang sedemikian dahsyat bisa mengalahkan semua godaan setan, dan hidup sepenuhnya untuk kemuliaan Tuhan dan tidak mempermalukan Tuhan. Allah adalah Allah yang lebih tinggi dari setan. Ketika George Müller tua dan orang bertanya kepadanya tentang rahasia kekuatan imannya dan bagaimana ia bisa percaya kepada Tuhan dengan begitu riil, ia menjawab: “Saya tidak mempunyai rahasia apa-apa. Yang saya tahu hanya percaya kepada-Nya sepenuhnya di dalam doa saya. Saya membaca Firman-Nya lebih dari 100 kali dari awal sampai akhir. Saya mengetahui bahwa Firman dan janji Tuhan itu sungguh dan dengan itu aku tidak membutuhkan rahasia apapun, kecuali berlutut dan berbicara kepada Bapaku.” Iman itu sungguh, iman itu riil. Jikalau saudara dibesarkan dalam kondisi tidak beriman, saya rindu generasi ini menjadi generasi yang beriman.

Indonesia ini negara apa? Indonesia ini mau ke mana? Jika anak-anak muda lebih suka berkelahi dan tawuran, yang tua lebih suka korupsi dan berbuat curang; theologi yang baik tidak dimengerti, musik yang bermutu tidak dimengerti, iman yang benar tidak dimengerti, firman Tuhan tidak dimengerti, seni yang baik tidak dimengerti, lalu seluruh bangsa ini mau menjadi apa? Saya rindu menggarap suatu generasi yang betul-betul mau beriman, yang mau theologi yang baik, yang mau mengerti musik yang baik, hidup yang baik. Untuk itu saya tidak mengenal lelah, saya tidak mau menyerah, dan saya tidak mau berkompromi. Saya tidak akan mundur ketika saya harus berhadapan dengan kesulitan. Saya mau beriman dan bersandar kepada pimpinan Allah, taat pada Firman-Nya, dan terus maju sampai hari ini. Siapa di antara Anda sekalian yang mau beriman? Siapa yang tidak bersandar pada uang, atau tidak menggarap ambisi pribadi, melainkan mau beriman dan taat kepada Tuhan? Kiranya kita boleh selalu bergumul dan beriman untuk mau menggenapkan rencana Tuhan Allah yang telah direncanakan di dalam sorga, agar boleh digenapkan di bumi ini, karena ada orang-orang yang bersandar dan beriman kepada-Nya.

Ada orang yang mengatakan pada saya beberapa tahun lalu bahwa GRII tidak mungkin mendapatkan izin bangunan. Saat itu saya diam saja, hanya berdoa kepada Tuhan. Sekarang terbukti siapa yang benar siapa yang salah. Yang benar adalah Tuhan, yang salah adalah orang yang tidak percaya. Kita yang bersandar pada Tuhan, kita akan melihat kebenaran itu. Saya ingin menjadi pemimpin suatu gerakan yang beriman, tetapi itu tidak mudah. Iman bukan berasal dan bersumber dari manusia, tetapi dari Tuhan. Dan iman yang diberikan kepada seseorang selalu dianggap sebagai suatu mimpi yang tidak mungkin dilakukan. Kita perlu belajar dari Abraham, ketika diberitahu, ia setia dengan apa yang Tuhan katakan. Setiap kali diberitahu satu kalimat, ia segera memegang satu kalimat itu. Inilah iman yang sejati. Abraham sangat berbeda dengan istrinya. Istrinya mencurigai kebenaran perkataan Tuhan. Ia menertawakan firman Tuhan. Ia menganggap apa yang dikatakan Allah tidak mungkin, karena tidak sesuai dengan pikiran dan pengalaman manusia. Mana mungkin Abraham tahun depan akan bisa memiliki anak jika Sara sudah tidak mengalami ‘datang bulan’ lagi? Itu sesuatu yang tidak mungkin. Apa yang Tuhan katakan adalah sesuatu yang tidak mungkin. Maka istri Abraham menertawakan apa yang Allah katakan. Tetapi ketika Allah menegur, ia menyangkal dan tidak mau mengakui. Ini sikap yang tidak benar. Sudah tidak mau percaya, tidak beriman, masih menyangkal. Mungkin dalam beberapa aspek, kita bisa juga bersikap seperti Sara. Bukan hanya tidak percaya apa yang Allah katakan, tetapi juga menertawakannya, dan sekaligus menyangkal ketika Tuhan menegur kita. Mungkinkah di dalam sebuah negara yang mayoritas masyarakatnya bukan Kristen bisa mendapatkan izin untuk mendirikan sebuah gereja yang besar? Mungkin dalam pikiran banyak orang, itu adalah sesuatu yang mustahil. Tetapi bagi Tuhan itu mungkin. Orang beriman akan berkata: mungkin! Bilakah waktunya? Memang kita semua tidak tahu, tetapi itu tetap mungkin. (Kini kita tahu bahwa gedung ini sudah terealisasi dan berdiri dengan megah, didedikasikan kepada Tuhan dalam Kebaktian Dedikasi pada tanggal 20 September 2008 yang lalu, di Jl. Industri, Kemayoran, Jakarta, red.). Iman memiliki banyak sekali varian dan aspek. Ada iman yang menyelamatkan, iman bahwa Tuhan memelihara kita, atau iman di dalam menghadapi kesulitan, dan lain-lain.

Seorang Inggris, George Müller memelihara anak-anak yatim piatu yang ditinggalkan oleh bapak dan ibu mereka, atau anak dari pelacur yang tidak mau memelihara mereka, atau anak orang yang terlalu miskin sehingga tidak sanggup lagi memelihara mereka. Anak-anak terbuang ini ia terima dan pelihara. Dalam kondisi yang paling berat, ia pernah memelihara 1.000 anak yatim piatu. Ia harus memberi makan seluruh anak-anak itu. Ia sendiri bukan seorang yang kaya raya. Terkadang ia tidak tahu dari mana ia memperoleh roti untuk memberi makan anak-anak tersebut. Tetapi ia sungguh beriman kepada Tuhan. Ia hanya berlutut dan memohon kepada Tuhan agar Tuhan masih berkenan memberi makan anak-anak ini. Kita terkadang memelihara dua anak saja sudah sulit luar biasa. Bisa kita bayangkan betapa susah dan sulitnya George Müller ketika harus mengasuh dan memelihara 1.000 orang anak setiap hari. Suatu hari petugas dapurnya memberitahukan kepadanya bahwa sudah tidak ada makanan sama sekali. Ia tidak tahu bagaimana memberi makan anak-anak untuk makan siang mereka. Jika pukul 12 siang bel dibunyikan dan anak-anak berlarian ke ruang makan, apa yang akan diberikan kepada mereka? George Müller ketika mendengar hal itu, ia masuk ke kamarnya, berlutut dan berdoa kepada Tuhan: “Tuhan berikanlah makanan kepada anak-anak ini, aku beriman kepada-Mu.” Tetapi bagaimana? Jika diberikan tepung, saat itu sudah pukul 10 pagi, tidak mungkin ada waktu untuk membuat roti. Tetapi ia tetap beriman. Ia keluar dari kamar, dan memerintahkan untuk tetap membunyikan bel tepat pukul 12 siang. Ketika pegawainya bertanya, apa yang akan diberikan nanti ketika anak-anak sudah di ruang makan, maka George Müller menjawab: “Tuhan akan menyediakan.” Mungkin pegawai itu akan keluar dan berkata kepada teman-temannya, “Wah, orang tua itu susah diajak bicara. Mustahil kita membunyikan bel makan pukul 12 siang sementara kita tahu persis bahwa sama sekali tidak ada makanan yang bisa kita suguhkan. Tapi memang kita tidak bisa bicara dengan orang tua itu.” Ketika pukul 12 siang, pegawai itu benar-benar membunyikan bel dan ia ingin melihat bagaimana caranya George Müller akan menghadapi anak-anak yang kelaparan sambil tidak ada makanan sama sekali. George Müller masuk ke ruang makan, anak-anak juga sudah masuk ke ruang makan, dan mereka dengan tertib lalu berdoa. Namun, mereka heran karena tidak ada makanan yang tersuguh di meja makan. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Beberapa kereta membawa roti berhenti di depan rumah itu. Orang yang menghantar menanyakan apa benar ini rumah George Müller dan betul-betul merupakan rumah panti asuhan. Setelah dikonfirmasikan, maka ia memberitahukan bahwa ia diminta seorang kaya untuk mengantar roti itu tepat pukul 12 siang ke rumah itu. Maka seluruh anak itu bisa makan sampai kenyang. George Müller berlutut dan berdoa: “Tuhan, Engkau adalah Allah yang hidup!” Jangan ikut-ikut cara George Müller jika saudara bukan orang yang beriman sungguh ke dalam Kristus, nanti engkau akan mengalami hal yang menakutkan. Engkau harus memupuk imanmu berpuluh-puluh tahun di hadapan Tuhan sampai kekuatan yang sedemikian dahsyat bisa mengalahkan semua godaan setan, dan hidup sepenuhnya untuk kemuliaan Tuhan dan tidak mempermalukan Tuhan. Allah adalah Allah yang lebih tinggi dari setan. Ketika George Müller tua dan orang bertanya kepadanya tentang rahasia kekuatan imannya dan bagaimana ia bisa percaya kepada Tuhan dengan begitu riil, ia menjawab: “Saya tidak mempunyai rahasia apa-apa. Yang saya tahu hanya percaya kepada-Nya sepenuhnya di dalam doa saya. Saya membaca Firman-Nya lebih dari 100 kali dari awal sampai akhir. Saya mengetahui bahwa Firman dan janji Tuhan itu sungguh dan dengan itu aku tidak membutuhkan rahasia apapun, kecuali berlutut dan berbicara kepada Bapaku.” Iman itu sungguh, iman itu riil. Jikalau saudara dibesarkan dalam kondisi tidak beriman, saya rindu generasi ini menjadi generasi yang beriman.

Indonesia ini negara apa? Indonesia ini mau ke mana? Jika anak-anak muda lebih suka berkelahi dan tawuran, yang tua lebih suka korupsi dan berbuat curang; theologi yang baik tidak dimengerti, musik yang bermutu tidak dimengerti, iman yang benar tidak dimengerti, firman Tuhan tidak dimengerti, seni yang baik tidak dimengerti, lalu seluruh bangsa ini mau menjadi apa? Saya rindu menggarap suatu generasi yang betul-betul mau beriman, yang mau theologi yang baik, yang mau mengerti musik yang baik, hidup yang baik. Untuk itu saya tidak mengenal lelah, saya tidak mau menyerah, dan saya tidak mau berkompromi. Saya tidak akan mundur ketika saya harus berhadapan dengan kesulitan. Saya mau beriman dan bersandar kepada pimpinan Allah, taat pada Firman-Nya, dan terus maju sampai hari ini. Siapa di antara Anda sekalian yang mau beriman? Siapa yang tidak bersandar pada uang, atau tidak menggarap ambisi pribadi, melainkan mau beriman dan taat kepada Tuhan? Kiranya kita boleh selalu bergumul dan beriman untuk mau menggenapkan rencana Tuhan Allah yang telah direncanakan di dalam sorga, agar boleh digenapkan di bumi ini, karena ada orang-orang yang bersandar dan beriman kepada-Nya
Iman dari Allah Roh Kudus

Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

(1Korintus. 12:7-11)

Di dalam 1 Korintus 12:7-11 ini, kita melihat bahwa Roh Kudus memberikan berbagai karunia kepada umat Allah, kepada setiap orang percaya. Ini yang kemudian dikenal sebagai karunia Roh Kudus. Setiap orang percaya dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Karunia Roh diberikan “seperti yang dikehendaki-Nya” yaitu seturut kehendak Roh Kudus, bukan menurut kehendak kita, doa kita, ataupun ambisi kita. Karunia Roh Kudus hanya berasal dari Roh Kudus dan atas kehendak Roh Kudus. Di sini dinyatakan bahwa Roh Kudus yang memberikan iman kepada umat-Nya. Ayat ini adalah satu-satunya ayat yang menyatakan bahwa iman berasal dari Roh Kudus, dan sekaligus satu-satunya ayat yang menyatakan bahwa iman adalah karunia.

Allah Tritunggal dan Iman

Allah Bapa memberikan iman dasar; Allah Kristus memberikan iman keselamatan; dan Allah Roh Kudus memberikan iman pelayanan sebagai karunia. Allah Bapa menanamkan iman kepada kita sehingga kita bisa mengetahui adanya Tuhan Allah dan Dialah yang memberikan anugerah kepada manusia. Melalui Kristus, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan kita dan menyelamatkan kita dengan Kristus mati dan bangkit bagi kita. Melalui iman yang ditanamkan oleh Roh Kudus, kita percaya kepada Tuhan dan bersandar kepada-Nya sambil berani melakukan banyak hal yang dianggap sulit atau tidak mungkin bagi orang lain. Jikalau ketiga macam iman yang diberikan oleh Allah Tritunggal ini ada di dalam diri kita, maka kita akan menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman. Orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman adalah orang yang tidak menghasilkan iman dari diri sendiri yang berdosa, tidak mengandalkan diri yang hanya ciptaan ini, melainkan yang mendapatkan imannya dari Allah Tritunggal - Dialah satu-satunya dan yang paling berhak memberikan iman yang benar kepada manusia. Hal ini mengungkapkan apa yang dikenal sebagai theologi yang theosentris, yaitu theologi yang berpusat pada Allah, yaitu iman dimulai dan didasarkan pada Allah sendiri. Theosentris berarti berpusat pada Allah, bukan pada diri. Ada dua macam agama, yaitu agama yang dari Allah dan agama yang dari manusia; demikian juga ada dua macam gereja, yaitu Gereja yang dari Allah dan gereja yang dari manusia.

Jika ada manusia yang pandai, mempunyai banyak uang, dan kemampuan manajemen mendirikan gereja, maka gereja itu menjadi gereja yang antroposentris, yaitu gereja yang berpusat pada manusia, bukan pada Allah. Gereja yang berpusat pada manusia akan selalu mengandalkan kekuatan manusia, mengandalkan orang pandai, orang kaya, atau orang-orang yang mempunyai pengaruh sosial atau politik di masyarakat. Gereja yang berpusat pada Allah adalah Gereja yang mengandalkan kuasa Allah, anugerah Allah, pimpinan Allah, dan berjalan berdasarkan gerakan Roh Kudus yang memimpin seluruh Gereja-Nya untuk memuliakan Allah, bukan diri.

Demikian juga ada dua macam theologi, yaitu theologi yang berpusat pada Allah (theologi theosentris) dan theologi yang berpusat pada manusia (theologi antroposentris). Theologi antroposentris menggunakan pendekatan psikologis untuk menjelaskan Alkitab, memakai pengalaman manusia untuk menafsirkan Alkitab, dan memakai rasio manusia untuk membuat tafsiran Alkitab. Diri manusia menjadi pusat, kemudian memperalat firman Tuhan dan memanipulasi firman Tuhan agar sesuai dengan pengalaman, rasio, dan pergumulan manusia yang salah. Theologi theosentris berdasarkan pada wahyu Tuhan, percaya penuh akan kebenaran firman Tuhan - bahwa Alkitab tidak mengandung kesalahan, dan percaya pada Allah yang memberikan Firman.

Iman Palsu

“Siapa yang percaya kepada Tuhan Yesus pasti diselamatkan.” Benarkah pernyataan ini? Pernyataan ini baru benar sebagian karena firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa ditarik oleh Bapa akan datang kepada Kristus.” Barulah kalimat berikutnya adalah kalimat yang di atas. Di sini kita melihat perlunya mengerti kebenaran firman Tuhan secara penuh.

Saat ini, ada begitu banyak orang yang mengajarkan iman yang berpusat pada manusia. Mereka berkata, “Asal percaya saja, nanti engkau pasti sembuh.” Banyak orang senang mendengar pengkhotbah seperti Benny Hinn, Reinhard Bonnke, dan lain-lain, yang berbicara tentang iman yang berbeda dari ajaran Alkitab. Iman yang bukan kembali kepada Allah dan kebenaran-Nya, tetapi kepada keinginan dan kepentingan manusia. Kalau saya mau berkhotbah seperti ini, tentu pendengar saya akan menjadi jauh lebih banyak, karena lebih menyenangkan bagi manusia. Akan tetapi saya harus taat kepada Allah dan Firman-Nya, karena ini bukan untuk kepentingan ataupun kenikmatan manusia. Theologi sejati adalah theologi yang theosentris bukan antroposentris. Theologi sejati menyenangkan Allah bukan manusia. Saat ini, semua yang menyenangkan Allah tetapi merugikan dan tidak menguntungkan manusia, dibuang.

Saluran Iman

Dengan jalur apakah Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus memberikan iman kepada kita?

Pertama, iman datang dari pendengaran. Ini prinsip Alkitab yang pertama. Di dalam Roma 10:17, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Khotbah tentang Kristus yang menyatakan kerahasiaan Kristologi adalah khotbah yang paling penting untuk menimbulkan iman. Orang yang sungguh-sungguh memberitakan Firman dengan benar, berkatnya besar sekali dari Tuhan. Tetapi orang yang terus-menerus mengkhotbahkan berkat yang besar, mungkin akan mendapat pukulan yang berat sekali dari Tuhan. Jikalau engkau memberitakan tentang Kristus dan terus memuliakan Kristus, maka tidak mungkin Roh Kudus tidak bekerja untuk mendukung engkau. Di mana ada seorang pemuda, seorang hamba Tuhan, seorang pengkhotbah, yang membicarakan Kristologi dengan sungguh-sungguh, di situ Roh Kudus mengurapi, memenuhi, mendampingi, memberi kekuatan, mengesahkan, dan mengkonfirmasikan apa yang dikhotbahkan, karena Roh dikirim untuk itu. Oleh karena itu, anak muda tidak boleh takut bersaksi tentang Kristus.

Saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan pada usia 17 tahun dan selalu bersaksi. Saya menggunakan sekitar 20% dari pendapatan saya untuk membeli dan membagikan traktat penginjilan, serta 40% untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Suatu waktu ketika menginjili di kereta api, saya takut menginjili seorang polisi yang galak sekali wajahnya. Saya takut ia marah, tetapi akhirnya saya memberanikan diri. Saya katakan, “Pak, silahkan percaya kepada Tuhan Yesus.” Sambil menerima traktat, Ia menjawab, “Oh, terima kasih.” dan tersenyum. Saya baru tahu orang galak kalau tersenyum manis juga. Itu membuat saya lebih berani membagikan traktat kepada orang lain. Saya bersyukur Tuhan terus memberkati saya hingga saat ini, semakin banyak orang yang menghadiri khotbah penginjilan yang saya kerjakan setiap tahun. Puji Tuhan! Jika engkau betul-betul mengabarkan Injil, betul-betul memberitakan Kristus, betul-betul mencintai Tuhan dan jiwa sesama, maka Tuhan akan memberkati. Orang beriman akan sungguh-sungguh meninggikan Kristus. Jika orang meninggikan diri, Tuhan tidak akan memberkati dan orang lain akan melihat bahwa motivasinya tidak beres.

Kedua, iman datang dari tuntutan doa yang sungguh-sungguh. Murid Tuhan Yesus berkata, “Tuhan, iman kami tidak cukup, tambahkanlah iman kepada kami.” Itu berarti doa yang meminta iman tidaklah salah. Banyak orang berdoa minta uang, minta kekayaan, minta kesembuhan, minta kesuksesan, tetapi jarang sekali yang berdoa meminta iman, minta mengerti kehendak Tuhan, dan minta diberi kekuatan untuk menjalankan kehendak Tuhan. Doa yang baik adalah berdoa untuk kemuliaan Tuhan, kerajaan Tuhan, kehendak Tuhan, dan kebesaran nama Tuhan. Doa untuk diri sendiri cukup satu kalimat saja yaitu, minta makanan yang secukupnya untuk hari itu. Itu saja tidak ada yang lain. Iman datang dari mana? Iman datang dari permohonan doa yang sungguh - permohonan untuk mau mengenal Allah, mau mengerti kehendak-Nya dengan benar, minta kekuatan untuk mengerjakan kehendak-Nya dengan benar, itulah permohonan yang benar. Tidaklah salah seseorang berdoa meminta iman.

Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semua yang lain akan ditambahkan kepadamu. Saya jarang berdoa untuk kesehatan saya, terus terang saya jarang berdoa untuk keamanan diri saya. Saya tidak pernah berdoa minta uang, minta kesehatan, ataupun minta keamanan, tetapi saya berdoa minta agar firman Tuhan dapat saya jelaskan dengan baik, minta agar Injil dapat dikabarkan, minta agar banyak pemuda menyerahkan diri, minta agar Tuhan memberkati orang yang memberitakan Injil dengan berani, serta minta agar Tuhan memberkati dan menolong para misionaris. Saya berdoa agar saya dapat menjalankan kehendak-Nya dan hanya kehendak-Nya sajalah yang jadi.

Ketiga, iman datang dari ujian. Mereka yang mengalami ujian iman akan menjadi lebih berharga daripada emas yang murni. Kalimat ini muncul dua kali, pertama di Perjanjian Lama yaitu, kitab Ayub: “Setelah aku diuji, aku akan menjadi seperti emas murni.” Lalu di Perjanjian Baru yaitu, surat Petrus: “Tidak tahukah kamu, imanmu setelah diuji akan lebih berharga dari emas yang murni?” Dalam dua perjanjian ini, secara konsisten dikatakan bahwa iman diperkuat bagaikan emas yang diuji, makin dibakar dan dicairkan, semakin murni. Pada mulanya iman kita tidak murni karena banyak si “aku” dan “keuntunganku”, tetapi akhirnya iman bisa menjadi murni. Pemurnian ini hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Jika kita melayani bagi kepentingan diri kita sendiri, bagi kemuliaan kita, profit kita, keluarga kita, maka kita tidak bisa dipakai oleh Tuhan. Jika kita melayani bagi kemuliaan Allah dan bagi Kristus, maka pelayanan kita akan diperkenan oleh Tuhan.

BACA JUGA: Allah Tritunggal: Satu Roh Atau Tiga Roh

Iman datang dari ujian. Setelah diuji melalui api, maka cairan yang kotor dapat dibuang sehingga emas menjadi semakin murni. Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diperintahkan untuk menyembah berhala yang dibuat dari emas, mereka berada di dalam ujian. Jika mereka menolak, maka dapur api yang sedemikian panas menanti mereka. Ini adalah ujian. Akhirnya, bukan saja tidak mati, tetapi ketika mereka keluar, sama sekali tidak ada bau terbakar ataupun bekas api. Hal ini membuat saya kagum. Banyak orang saat ini masih berbau hangus ketika baru keluar dari ujian, sehingga semua orang tahu bahwa dia baru saja susah. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berbeda, mereka tidak ada bau terbakar sama sekali. Banyak orang berpuasa tapi membuat orang lain tahu bahwa dia sedang susah dan mengharuskan orang lain ikut susah. Sudah lelah, tidak terlihat lelah; sudah susah, tidak terlihat susah, sudah menderita tidak terlihat menderita, inilah sikap orang Kristen. Orang yang melayani Tuhan dengan beriman tidak bisa dilelehkan oleh api, karena “api” mereka lebih dari itu. Setelah melampaui ujian, aku menjadi lebih murni dari emas murni. Inilah kesaksian Alkitab.

Di sorga nanti, yang paling keras bukanlah berlian, melainkan orang Kristen yang pernah dilatih, yang pernah pikul salib, yang pernah dianiaya, yang pernah diumpat, difitnah, ditekan, maupun disalah mengerti. Ketika semua ujian sudah dilewati namun ia masih tetap berdiri tegak, maka saat itulah ia akan melebihi berhala. Berhala dibuat dari emas yang dicairkan dan akhirnya menjadi cair oleh api. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak bisa dicairkan oleh api, karena mereka jauh lebih keras dari api yang mau membakarnya. Jika demikian, mengapa kita mau menyembah apa yang bisa dicairkan? Maukah engkau menjadi manusia beriman? Iman yang sejati adalah iman yang lebih keras dari berlian, platinum, ruby, atau batu apapun. Iman yang sudah teruji lebih kuat, lebih tinggi, lebih bernilai, dan lebih berharga daripada emas murni. Siapakah mereka? Mereka adalah orang beriman yang sudah lewat ujian.

Maka, pertama, iman datang dari Firman; kedua, iman datang dari tuntutan doa yang sungguh-sungguh; dan ketiga, iman yang mengalahkan ujian. Kiranya kita boleh menjadi orang yang beriman. 

Iman dari : Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. 

Amin.

Pdt. Dr. Stephen Tong.

YESUS KRISTUS DILAHIRKAN UNTUK MENDERITA.



YESUS KRISTUS DILAHIRKAN UNTUK MENDERITA. Natal merupakan hari yang menyenangkan, dirayakan di tempat yang begitu meriah, begitu indah, makan makanan yang begitu mewah dan mahal. Namun, jikalau kita memikirkan kembali Natal yang pertama, biarlah hati kita sekali lagi tertarik oleh cinta kasih Tuhan, karena Natal pertama merupakan hari yang sangat hina. "Christianity starts from the very humble beginning". Inilah sebuah kalimat yang menjadi introduksi dalam film Jesus dari LPMI, Campus Crusade. Benar! "Christianity starts from the very very humble beginning".
Kekristenan tidak tiba dengan sesuatu yang meriah, mewah, dan hormat; tetapi kekristenan dimulai dari tempat yang hina. Selama lebih 40 tahun saya melayani Tuhan, tidak pernah sekalipun Natal saya rayakan dengan main-main; tetapi selalu saya rayakan dengan hati yang berat, karena ini merupakan satu titik permulaan firman Tuhan yang paling klimaks, yang disampaikan kepada umat manusia.
Beribu-ribu tahun Allah mempersiapkan nabi-nabi, bernubuat dan bernubuat. Istilah nabi dalam bahasa Ibrani berarti: yang mewakili Tuhan untuk berbicara. Mereka dipakai menjadi suara Tuhan. Mereka dipakai untuk mencetuskan apa yang menjadi isi hati Tuhan, supaya perkataan-perkataan Tuhan boleh terdengar di dunia yang sudah berdosa, yang sudah jauh dari Tuhan, yang sudah menyeleweng dari kebenaran. Tuhan ingin berkata-kata kepada manusia, tetapi manusia tidak ingin mendengarkan perkataan-perkataan dari Tuhan. Tuhan ingin mencetuskan hati-Nya kepada manusia, seperti orang tua yang tidak mau melihat anaknya menuju kepada jalan kebinasaan. Nasihat, peringatan, ajaran, didikan, dan kalimat-kalimat yang penuh dengan segala hal yang penting, diabaikan oleh mereka yang tidak memerlukannya. Mereka bukan tidak memerlukannya, tapi merasa belum memerlukannya. Mengapakah kita harus menunggu sampai betul-betul hancur, bangkrut, dan dibuang, baru mulai membuka telinganya kepada Tuhan?
Setiap kali merayakan Natal, saya tidak mengecualikan, memakai kebaktian ini sebagai kebaktian penginjilan, karena Injil mulai sejak hari Natal. Injil mulai sejak kelahiran Yesus Kristus. Istilah Injil di dalam Bahasa Gerika adalah "Euangelion". "Euangelion" berarti kabar kesukaan -- kabar kesukaan yang hanya singular, satu saja -- the only good news. Dalam dunia engkau melihat begitu banyak orang berani memakai kata: kabar kesukaan, kabar kesukaan. Tapi itu good news-good news yang tidak penting. Hanya ada satu good news, hanya ada satu kabar baik, yaitu: orang berdosa boleh kembali berdamai dengan Tuhan Allah. Kabar baik ini dimulai dari mana? Dari Yesus Kristus yang lahir ke dalam dunia.
Yesus Kristus hadir di dalam sejarah. Yesus Kristus lahir ke dalam dunia. Kitab Suci menyatakan Allah yang menyatakan diri di dalam daging. God manifested Himself in flesh -- Allah menyatakan diri di dalam daging. Inilah yang disebut sebagai firman menjadi tubuh, yang disebut logos menjadi flesh, menjadi bertubuh seperti manusia. Mungkinkah ini? Ini tidak terdapat dalam agama manapun. Di dalam agama-agama di seluruh dunia tidak pernah diajarkan bahwa Allah sendiri menjadi manusia, pernah sungguh-sungguh dilahirkan, pernah sungguh-sungguh berdaging, berdarah. Tidak! Tidak ada agama yang mengajar ini kecuali Kitab Suci, firman Tuhan yang berkata-kata kepada kita. Alangkah besarnya hal ini. Ini merupakan keajaiban besar rahasia ibadah, yaitu Allah menyatakan diri dalam daging.
Ibrani 2:14 mengatakan, "Sebagaimana saudara-saudara berdaging, berdarah, maka Anak Allah yang tunggal, Yesus Kristus, datang ke dunia juga bersalutkan dengan daging dan darah, seperti engkau dan saya." Siapakah yang mengerti sifat manusia kecuali manusia itu sendiri? Siapakah yang mengerti kesulitan-kesulitan, penderitaan, sengsara, dan segala kepahitan yang boleh dialami oleh manusia, kecuali manusia itu sendiri? Dalam 1 Korintus 2 dikatakan, selain roh manusia, siapakah yang mengerti manusia? Tetapi tidak berhenti di situ, ayat ini meloncat pada tingkatan yang lebih tinggi, "tanpa roh Allah juga tidak ada orang mengerti Allah." Di dalam psikologi, yang menjadi keindahan adalah pengertian antara manusia yang lebih berpengalaman menganalisa dan memberikan petunjuk kepada mereka yang kurang berpengalaman dan berada di dalam kesulitan. Itulah sifat konstruktif dari psikologi. Tetapi jikalau tidak berdasarkan kebenaran, tidak berdasarkan cinta kasih yang sesungguhnya, sebenarnya psikologi tidak bisa berbuat baik, tidak bisa berbuat banyak.
Kecuali roh manusia, siapa yang mengerti manusia? Waktu membaca dan merenungkan, saya langsung memusatkan konsentrasi kepada Tuhan yang rela menjadi manusia. Hal ini tidak berarti jikalau Yesus tidak pernah datang ke dalam dunia, maka Allah tidak mungkin mengerti kesengsaraan hidup manusia. Bukan! Allah bisa mengerti karena Dia Mahatahu. Dia tidak perlu harus memunyai pengalaman "menjadi" sebagai titik awal untuk pengertian. Tetapi Allah menyatakan diri hadir ke dalam dunia, menjelma menjadi manusia, dan bersalut dengan daging dan darah, justru untuk memberitahu engkau dan saya bahwa Dia adalah Allah yang care, Dia adalah Allah yang peduli, Dia adalah Allah yang memelihara! Ibraniu 2:14 menyatakan, "Ia berdaging dan berdarah agar khusus melalui kematian, berperang bagi kita untuk mengalahkan si penguasa dari kematian, yaitu iblis." Dari sini terbitlah sesuatu pikiran di dalam hati saya: "Mengapa Yesus lahir?" Yesus dilahirkan untuk menderita.
Di Indonesia, ada lebih dari 50 juta orang mengalami hidup yang lebih pahit dari sebelumnya, setelah krisis moneter. Dan kali ini, suara dan ajaran Tuhan bukan hanya ditujukan kepada orang miskin, tetapi kepada semua lapisan, termasuk orang kaya. Biarlah manusia mendengar! Bukalah telingamu kepada Tuhan! Mazmur 49 berkata, "Orang atasan, orang bawahan, orang kaya, orang miskin, biarlah semua yang bertelinga mendengar firman Tuhan." Pemazmur mengatakan, "Aku akan mengatakan kalimat-kalimat yang berbijaksana melalui kecapi yang aku mainkan. Biarlah orang di aliran atas atau di aliran bawah, semua mendengarkan dengan baik karena ini adalah firman Tuhan." Kadang-kadang Tuhan memberikan pengajaran kepada satu lapisan, kadang-kadang kepada seluruh lapisan dunia ini. Biarlah kita mengerti suara Tuhan melalui Kristus yang lebih menderita dari siapapun yang ada di tengah-tengah kita.
Tidak pernah ada satu orang yang hidup lebih miskin, lebih susah dari Yesus Kristus. Lahir di tempat binatang, meminjam palungan yang bau dan hina. Mati meminjam kuburan orang kaya yang belum pernah dipakai untuk menguburkan orang lain. Yesus Kristus meminjam kuburan tersebut selama beberapa hari, lalu Ia bangkit. Di tengah-tengah kelahiran dan kebangkitan ada: kesengsaraan, pencobaan, pergumulan, tersendiri dan ditolak, diejek, dan akhirnya dipaku di atas kayu salib. Tidak ada orang yang lebih susah daripada Yesus Kristus, tidak ada orang yang lebih miskin dari Yesus Kristus, tidak ada orang yang lebih menanggung berat daripada Yesus Kristus, tidak ada orang yang lebih tersendiri dibanding Yesus Kristus.
Mengapa? Mengapa Anak Allah yang mempunyai kemuliaan dan kehormatan demikian besar di Surga, harus turun untuk mencicipi, merasakan, mengalami, melewati semacam kehidupan yang begitu menderita? Begitu banyak sengsara? Jawabannya adalah karena kasih yang mendorong Dia turun dari surga ke dalam dunia. There is no greater love than the greatest love of Jesus Christ, came down from heaven to bear your sin, and hung on the cross to replace you and me. Waktu Yesus Kristus lahir ke dalam dunia, mari kita membayangkan apa yang menjadi persiapan hati Dia untuk turun ke dalam dunia.
Pertama, Yesus Kristus dilahirkan dengan persiapan hati untuk dibatasi. Kalimat ini begitu mudah dimengerti, begitu mudah dibatasi, tetapi kalau ada orang yang memiliki ketidakterbatasan masuk ke dalam keterbatasan, maka baru ia mengetahui apa artinya "dibatasi". Saya \ mengambil contoh, jikalau engkau setiap bulan boleh memakai 50 juta untuk kehidupanmu, tapi mulai bulan depan engkau hanya boleh memakai 50 ribu, engkau akan mengerti apa maksud kata "dibatasi" di atas. Bagi orang yang tadinya miskin lalu bebas boleh memakai uang dengan semena-mena, itu merupakan hal yang menyenangkan. Bagi orang yang dulunya terbatas, sekarang mendapatkan kebebasan yang besar, itu menyenangkan. Tetapi Tuhan Yesus Kristus tidak demikian.
Orang miskin menjadi kaya, itu enak. Tetapi tidak ada orang yang bisa mengerti bagaimana susahnya Yesus Kristus, karena dari surga yang tidak terbatas Ia menjadi seorang bayi di dalam palungan. Dari Allah yang mencipta menjadi seseorang di dalam dunia ciptaan yang hanya berpuluh kilo berat tubuh-Nya, hanya sekian liter darah di dalam tubuh-Nya dan berjalan di Galilea. Terbatas, terbatas, terbatas oleh apa? Terbatas oleh natural law, terbatas oleh physical law, terbatas oleh material law. Yesus Kristus dibatasi dalam hukum alam, hukum fisika, hukum tubuh, hukum materi. Yesus Kristus berada di dalam dunia dan hidup dalam keterbatasan. Dia berbeda dengan engkau. Memang engkau manusia dan saya manusia, tetapi Dia adalah Allah, Allah yang turun ke dalam dunia, Allah yang rela dibatasi. Inilah poin yang pertama dari "lahir untuk menderita".
Ke-dua, ketika Yesus Kristus turun ke dalam dunia, Dia siap untuk diikat dan dilimitasi oleh segala hukum Taurat. Kita suka kebebasan. Kalau mengemudi mobil, kita mengharapkan setiap kali sampai di persimpangan jalan, lampu berwarna hijau dan bukan merah. Jika kita mengendarai mobil begitu cepat, tetapi sampai di persimpangan jalan lampunya merah, saya sedikit jengkel. Saya akan mengharapkan lampu cepat-cepat berubah kuning, lalu hijau dan saya langsung akan tancap gas lagi. Yesus Kristus bukan saja dibatasi secara hukum alam, dibatasi hukum fisika, tetapi sekarang dibatasi dalam segala hukum Taurat.
Yesus Kristus harus berada di bawah pengasuhan Taurat 100%. Alkitab mengatakan, "Mengapakah Yesus dibaptiskan oleh seorang manusia yang namanya Yohanes Pembaptis?" Karena Dia harus menjalankan segala syariat Taurat. Alkitab mengatakan, "Yesus Kristus harus menunggu sampai umur 30 tahun, baru keluar menjadi Mesias." Mengapa demikian? Karena menurut Taurat, imam tidak boleh dilantik sebelum umur 30 tahun. Mengapa umur 12 tahun harus berjalan kaki berhari-hari dari Nazaret menuju Yerusalem? Karena Taurat menuntut anak berumur 12 untuk pergi ke Bait Allah dan ditahbiskan menjadi Bar-Mitzvah. Mengapakah Yesus Kristus harus dipaku diatas kayu salib? Karena Dia menanggung dosa engkau dan saya. Menurut Taurat, yang berdosa harus mati. Inilah poin kedua.
Yesus Kristus dilahirkan melalui seorang wanita, dilahirkan di bawah penguasaan Taurat. Dalam Matius 5 Yesus Kristus mengatakan, “Jangan kira Anak Manusia datang untuk meniadakan Hukum Taurat, bukanlah demikian. Aku datang justru untuk menggenapkan Taurat.” Dan Dia harus taat - setiap titik, setiap nada, setiap huruf, setiap garis dan apa yang dicatat di dalam Taurat. Orang-orang Farisi telah memperkembangkan pengertian Taurat dengan teologi orang PL, dimana makin lama makin rumit, makin lama makin complicated. Akhirnya menjadi ribuan topik, ribuan syariat Taurat dan Yesus Kristus tidak melanggar satu pun di antara segala perintah-perintah itu. Di dalam sejarah, dalam seluruh dunia, ada satu orang yang pernah menggenapi seluruh Taurat. Bukan orang Yahudi, bukan rabi, bukan orang Farisi, bukan Musa, justru hanya satu orang, yaitu Yesus Kristus. Berapa banyak pemimpin-pemimpin agama yang munafik? Berapa banyak dosa yang disimpan di belakang jubah agama? Berapa banyak pemuka agama yang berbicara suci, tetapi hidupnya najis?
Dalam dunia begitu banyak orang mengetahui Taurat, agama, tetapi justru negara yang paling beragama adalah negara yang paling korupsi. Berapa banyak dosa disimpan di belakang jubah agama? Berapa banyak agama dipakai menjadi suatu kedok atau topeng yang menutup segala dosa? Ketika Yesus Kristus berada di dalam dunia, maka kalimat-kalimat yang paling sengit, perkataan-perkataan yang paling tajam, kritik- kritik yang paling ganas, paling kuat dari Dia dituduhkan kepada pemimpin-pemimpin agama; Celakalah engkau, hai ahli Taurat! Celakalah engkau, hai orang Farisi! Kau pura-pura! Yang kau katakan dan kau jalankan itu berlainan. Tuhan Allah melihat ke dalam sedalam-dalamnya hati sanubari manusia. Dia mengetahui bagaimana hidup kita. Apakah kita setiap minggu datang ke gereja dengan pakaian yang begitu bagus, dengan perkataan yang begitu indah, dengan nyanyian yang begitu merdu, tetapi jiwa kita lebih jahat dan ateis, komunisme dan mereka yang melawan Tuhan? BERTOBATLAH! Supaya kita mendapatkan satu kali lagi perdamaian dengan Tuhan Allah.
Di seluruh kitab Ibrani kalimat yang penting antara lain adalah kesejatian. Sungguh sejati, sungguh benar, menjadi tuntutan tertinggi dari orang-orang Yahudi. Tetapi justru kalimat itulah yang paling banyak dikritik oleh Yesus Kristus: engkau bukan sunat, engkau pura- pura, engkau munafik, engkau palsu adanya. Yesus Kristus datang ke dalam dunia, menjalankan hukum Taurat, dan satu titik, satu nada pun tidak dilanggar. Kadang-kadang saya tidak bisa membayangkan jikalau Yesus di dalam dunia selama 33 1/2 tahun, pernah 1 menit atau 1 detik berdosa. Bagaimana jika itu terjadi? Ini menyangkut isu teologis yang penting. Mungkinkah Yesus Kristus berbuat dosa di dunia? Selama di dunia 33 1/2 tahun, Dia mungkin berbuat dosa atau tidak? Jawabannya adalah Yes & No!
Jikalau kita mengatakan bahwa Yesus Kristus tidak mungkin berbuat dosa, Dia bermain sandiwara, bukan? Dia datang hanya berpura-pura menjadi manusia, padahal Dia tidak mungkin berbuat dosa. Berarti pasti Dia menang, bukan? Kalau demikian, semua pencobaan-pencobaan yang datang kepada Yesus Kristus tidak mempunyai arti apapun. Maka saya berkata, Yesus pasti punya kemungkinan berbuat dosa. Kalau tidak demikian, segala pencobaan yang diijinkan kepada Dia merupakan semacam permainan saja, sandiwara dari Tuhan Allah saja. Tetapi kalau ini dimutlakkan, menjadi bahaya besar. Alkitab mengatakan Yesus Kristus tidak berbuat dosa. Alkitab tidak mengatakan Yesus tidak mungkin tidak berbuat dosa. Alkitab hanya mengatakan Yesus Kristus tidak berbuat dosa, maka jawaban Yes & No harus dimengerti sebagai berikut: Ontologically: No!, Logically: Yes! Secara logika, Yesus mungkin berbuat dosa. Secara Ontologikal (secara being), Yesus Kristus tidak pernah berbuat dosa. Maka itu hanya menjadi suatu perbincangan teologis yang tidak pernah ada tunjangan dari fakta sejarah. Yesus Kristus tidak berdosa, kenapa? Karena Dia sudah menggenapi segala tuntutan Taurat. 100% tuntutan Taurat dijalankan oleh Dia, inilah poin kedua.
Ke-tiga, Yesus Kristus bersiap turun ke dalam dunia, bersiap untuk dipermalukan dan dihina di dalam dunia. Dalam Lukas dikatakan, "Tidak ada waktu bagi-Nya untuk makan." Kadang-kadang begitu sibuk sampai tidak ada waktu untuk makan, tidak ada tempat untuk berhenti. Pada waktu melayani, sekian banyak orang sakit datang kepada Dia, dan Dia terus melayani. Bukan saja demikian, setelah melayani apa yang menjadi imbalan-Nya? Imbalan-Nya adalah penghinaan, ejekan, olokan, umpatan, fitnahan dari orang yang melawan Dia.
Memang menjadi manusia tidak mudah. Engkau menjadi orang jahat ada banyak pendukungnya, menjadi orang baik banyak musuhnya. Enak yang mana? Menjadi orang baik banyak musuh, tapi menjadi orang jahat ada pendukung. Kalau begini, baik atau jahat sama saja, pokoknya nasib. Kalau engkau berbuat jahat masih banyak pendukung, jahatnya masih sukses. Kalau engkau begitu baik tapi masih banyak musuh, baikmu itu tetap gagal. Maka di dalam dunia ini sudah banyak orang yang hidup beyond good & evil. Tidak lagi mempunyai pikiran "harus berbuat baik atau jahat". Karena hal itu menjadi tidak praktis, tidak harus dipertahankan. Manusia hanya mencari untung dan rugi, tidak mementingkan mencari kebenaran atau tidak. Pemuda pemudi dalam mencari kawan dan sahabat, temuilah mereka dan hargai mereka yang mementingkan baik-jahat lebih daripada mementingkan untung-rugi. Mereka akan menjadi kawan yang sangat berguna. Jikalau engkau hanya berkawan dengan mereka yang mempunyai profit minded only, hanya memperhatikan keuntungan, di dalam keadaan rugi, mereka akan membuang engkau.
Yesus Kristus datang ke dalam dunia justru pada waktu paling susah, paling sengsara. Waktu ada keuntungan Dia mundur ke belakang, waktu ada kerugian Dia maju ke depan. Orang seperti ini terlalu sedikit, bukan? Dari mana kita melihat ini? Alkitab mengatakan pada waktu sudah mengenyangkan 5000 orang dengan roti, mereka mengatakan, "Kalau demikian, kita tidak usah lagi memilih raja yang mana, kita tidak perlu lagi memilih presiden yang mana. Ini saja, karena Dia bisa mengenyangkan kita, kalau Dia menjadi presiden, selesai. Sandang, pangan tidak menjadi persoalan lagi." Kalau Yesus menjadi presiden, semua kemiskinan akan dibasmi. Waktu Yesus Kristus memunyai kesempatan politik menjadi tempat yang nomor satu, tempat yang paling tinggi, Alkitab mengatakan, "Dia mengundurkan diri, naik ke bukit dan sepanjang malam berdoa kepada Allah." Adakah politikus seperti ini? Adakah pemimpin masyarakat seperti ini? Terlalu sedikit.
Yesus Kristus telah memberikan pelajaran kepada kita dan menjadi contoh bagi kita. Waktu ada keuntungan, Ia tidak merebut, waktu ada kesulitan, Dia tampil ke depan. Satu kalimat yang sangat menggerakkan hati saya, yaitu pada waktu di Getsemani Yudas datang dengan musuh-musuh karena uang. Yudas menjual Gurunya. Para musuh, karena iri dan benci, ingin membunuh Yesus Kristus. Pada waktu menangkap Yesus Kristus di Getsemani, Dia mengatakan satu kalimat: "Jika engkau menangkap Aku, biarlah orang-orang-Ku ini pergi." Berarti Dia tidak mau bawahan-Nya dirugikan karena Dia. Orang seperti ini sangat sulit ditemukan. Biasanya seorang yang mempunyai bawahan, bawahan itu boleh mati untuk saya, tetapi saya tidak akan mati untuknya.
Alkitab mengajarkan kepada kita, barangsiapa menjadi pemimpin yang mengorbankan rakyat untuk keuntungan diri, pastilah didongkel habis. Barangsiapa rela berjuang sampai mati untuk rakyat, pasti dijadikan pahlawan. Hanya ada dua macam pemimpin. Yesus Kristus pemimpin seperti apa? Yesus Kristus pemimpin yang pada waktu hendak ditangkap, diadili, dan dipaku di atas kayu salib, mengatakan: "Kalau engkau mau menangkap Saya, biarkanlah bawahan Saya pergi, lepaskanlah mereka." Pemimpin seperti ini menggerakkan hati manusia selama 2000 tahun. Tidak ada orang lain yang memunyai pengikut lebih banyak seperti Yesus Kristus, yang rela mati bagi kita. Yesus Kristus adalah pemimpin yang menyerahkan diri bagi orang lain, bukan pemimpin yang menyuruh orang lain mati bagi Dia. Inilah butir ketiga.
Ke-empat, ketika Yesus Kristus turun ke dalam dunia, Ia bersiap untuk menjadi budak yang taat - the Obedient Slave. Dia datang ke dalam dunia menjadi budak. Mengapa? Karena Dia datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Yesus Kristus berkata, "Bukankah engkau memanggil Aku Rabbi? Bukankah engkau memanggil Aku Tuhan? Tetapi di tengah-tengah engkau, Aku seperti budak, Aku melayani." Dia betul- betul menyatakan hidup, fakta realita yang tidak bisa disangkal oleh siapapun. Sehari sebelum naik ke atas kayu salib, Dia masih menjongkokkan tubuh, masih membasahkan tangan, dan mencuci kaki murid- murid-Nya. Filipi 2 mengatakan, "Dia taat sampai mati - obey to death." Dia taat sampai mati - lahir untuk taat - taat untuk mati. Inilah Yesus Kristus, inilah inkarnasi. Inilah hari Natal. Inilah yang disebut inkarnasi.
Pada waktu Yesus Kristus dilahirkan dalam dunia, malaikat berkata: "Namai Dia Immanuel." Imanu-el. El adalah Elohim, El adalah Allah, El adalah Tuhan Allah, dan Imanu berarti beserta - Tuhan beserta dengan kita. Kehadiran Kristus adalah kehadiran Allah. Kehadiran Yesus Kristus adalah kehadiran surga. Kehadiran Kristus adalah kehadiran semangat inkarnasi. Kehadiran Yesus Kristus adalah kehadiran pengorbanan. Kehadiran Kristus adalah kehadiran teladan, contoh, rela menyerahkan diri. Tuhan di surga akan melihat siapa yang seperti Anak Sulung-Nya. Anak-anak Allah, belajarlah dari Kakakmu yang sulung. Siapakah Anak Sulung? Siapakah Anak Sulung yang lebih daripada kita sebagai anak-anak Allah? 
Dia adalah Yesus Kristus. Sebagaimana anak sulung taat mutlak 100% kepada Allah, Tuhan mengatakan, "Alangkah bersukacitanya jikalau menemukan di dalam gereja ada orang Kristen yang taat kepada Tuhan." Jangan kira Tuhan memerlukan uang kita, persembahan kita, sepertinya Dia pengemis yang paling besar. Segala sesuatu yang kau berikan kepada Tuhan adalah dari Tuhan Allah dan apa yang kau persembahkan tidak pernah satu sen pun dikirim ke surga. Itu hanya dipakai untuk sesamamu di dunia, di dalam berbakti, di dalam menginjili, di dalam diakonia, di dalam kesulitan dan di dalam segala pekerjaan yang membawa manusia kembali kepada kebenaran. Tuhan tidak memerlukan uang persembahanmu dan persembahanku untuk menyambung hidup-Nya. Tidak! Lalu mengapa Tuhan memberikan kepada kita kesempatan untuk mempersembahkan sesuatu? Itu untuk menguji sejauh mana ketaatanmu kepada-Nya. Itu adalah kesempatan, dimana kita boleh belajar seperti Yesus Kristus, menjadi anak Allah yang taat.
Dalam Kitab Samuel dikatakan, ketaatan lebih indah dari persembahan. Kau mempersembahkan segala sesuatu lalu memberontak, lalu melawan Tuhan, Tuhan akan menanyakan kepadamu, "Apakah engkau mengira Aku memerlukan uangmu? Yang Aku tuntut daripadamu adalah hidup taat. Jalankan kehendak-Ku, sesudah itu baru memberikan persembahan kepada- Ku." Puji Tuhan, Yesus Kristus menjadi contoh ketaatan!
Itu sebabnya Ibrani 5:7-8 mengatakan, "Meskipun Dia adalah anak, Dia telah memelajari ketaatan melalui penderitaan supaya menjadi sempurna dan akhirnya boleh menjadi sumber keselamatan bagi segala bangsa yang taat kepada Dia." Our obedience in Jesus Christ is our obedience to the Lord, through Jesus" obedience to His Father - Ketaatan kita kepada Yesus Kristus adalah ketaatan kita kepada Allah Bapa melalui ketaatan Yesus Kristus yang menjadi contoh. Dia adalah sumber dan dasar ketaatan. Dia adalah pangkalan dan fondasi ketaatan. Dia adalah segala ketaatan kita terhadap Dia. Ketaatan kita hanya diakui dan diterima oleh Allah Bapa, melalui ketaatan Anak-Nya yang tunggal. Yesus Kristus sebagai Anak Sulung yang membawa kita untuk menerima hak menjadi anak karena ketaatan kepada Dia. Inilah butir yang keempat.
Ke-lima, Yesus Kristus dilahirkan dengan mempersiapkan diri untuk dibuang, untuk diejek, ditolak, untuk tidak diterima dengan baik, untuk dilupakan dan untuk dilawan oleh orang. Sedikit bukan, orang melahirkan anak dan membiarkan anaknya boleh diejek, ditolak, difitnah, diumpat, dikritik dan dilawan oleh banyak orang seperti Yesus Kristus? Pada waktu Yesus masih kecil, kira-kira berumur 11 tahun, terjadi satu hal di kota asal-Nya, yaitu Nazaret. Kota Nazaret, karena melawan Kaisar Roma, mengakibatkan lebih dari 100 orang digantung di kayu salib. Di pinggir jalan sepanjang Nazaret, orang-orang itu ditancapkan seperti tiang lampu, satu orang demi satu disalibkan. Bayangkan bagaimana Yesus Kristus berumur 11 tahun, masih kecil, berjalan-jalan dengan kawan-kawan-Nya. Di tengah-tengah jalan Dia melihat banyak kayu salib yang dipancangkan di situ. Dia menemukan arti itulah orang yang dipaku di atas kayu salib. Untuk pertama kalinya suatu fakta yang begitu riil, begitu kejam, begitu mengerikan, masuk ke dalam impression Yesus Kristus sebagai kanak-kanak. Dan Dia berkata, "Memang Aku datang untuk menjalankan kehendak Tuhan Allah."
Di SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara), ada sebuah ukiran yang melukiskan Yesus sebelum disalib, dua perampok sudah berada di atas, dan Yesus belum dipaku. Dia sedang berdiri, salib sudah ditaruh di tempat tersebut dan orang yang membawa palu sudah berada di dekat situ. Detik terakhir Yesus menengadah ke atas langit dan ada cahaya yang datang dari langit kepada Dia. Dia membuka mulut-Nya seolah olah berkata, “Ya Bapa, Aku datang untuk menjalankan kehendak-Mu." Lukisan itu sangat mempengaruhi pelayanan saya. Mudahkah menjalankan kehendak Tuhan? Tidak mudah! Jikalau engkau mau menjalankan kehendak setan, itu mudah. Jika engkau mau mentaati Tuhan, tidak mudah. Engkau harus bersiap. Bersiap untuk apa? Untuk diejek orang, dibuang orang, dihina orang, difitnah, diumpat orang.
Pada waktu seseorang dalam kongres internasional mengatakan, "Do you know who is the most criticized Christian in the world? Siapakah yang paling banyak dikritik di seluruh dunia?" Saya katakan, "I don`t know." Jawabannya adalah Billy Graham. Dia yang melayani Tuhan begitu besar, tapi dikritik, dimaki, dihina, diejek sana-sini. Saya bayangkan: mungkin kalau orang mempunyai banyak kawan, sekaligus mempunyai banyak lawan. Tetapi pernahkah Billy Graham diejek seperti Yesus Kristus? Tidak!
Yesus Kristus dipukul, dihina, dipasang mahkota duri! Waktu masih muda, Dia diejek, “Ini anak haram. Mama-Nya tidak malu, tidak menikah tapi sudah bersetubuh sampai melahirkan-Nya." Kalimat-kalimat yang menusuk hati- Nya sejak kecil, Dia tahu semuanya. Padahal itu adalah mujizat terbesar dalam dunia genetika, yaitu Maria, anak dara yang tidak menikah, dinaungi oleh Roh Kudus melahirkan Firman ke dalam dunia. Semua tusukan perkataan, hinaan, fitnahan, ejekan diterima-Nya. Yesus Kristus, seumur hidup, selama 33 1/2 tahun dan detik-detik di kayu salib masih mendengar mereka berkata, "Turun! Turun dari salib! Jikalau Allah adalah Bapa-Mu, Dia akan menyelamatkan Engkau. Hai Tabib, Engkau bisa menyembuhkan orang lain, tapi tidak bisa menyembuhkan diri-Mu sendiri? Turun! Jika Kau turun, aku percaya kepada-Mu!" Yesus turun atau tidak? Tidak! Mengapa tidak? Karena Dia tahu, kalau Dia turun, hari ini engkau dan saya hanya menunggu masuk neraka. Dia tidak boleh turun, Dia harus menjalankan kepahitan itu. Menerima penderitaan, kesengsaraan itu sampai tuntas. Dia harus menghabisi setiap tetes kepahitan dari kemarahan Tuhan yang dijatuhkan kepada orang berdosa. Padahal Dia yang tidak berdosa telah dijadikan dosa. Karena engkau dan saya, Dia tidak turun. Yesus menerimanya dan karena ini Dia dilahirkan untuk menderita. Ini adalah butir yang kelima.
Ke-enam, Yesus Kristus dilahirkan untuk diadili secara tidak adil. Waktu Yesus berada di dalam dunia, Dia berada dalam posisi orang berdosa. Padahal Dia tidak berdosa. Kalau kita masuk ke dalam kamar Intensive Care Unit (ICU), biasanya kita disuruh memakai pakaian rumah sakit, setelah itu baru masuk. Waktu saya masuk ruangan ICU, mendoakan orang sakit, dan memakai pakaian itu saya merasa tidak enak sekali. Saya rasa tidak sakit, dan ini bukan bajuku. Demikian juga kalau kita masuk ke dalam penjara, disuruh membuka jas dan memakai baju penjara baru boleh berkhotbah. Waktu saya memakai baju penjara, saya masuk dan semua orang melihat saya. Stephen Tong masuk penjara. Saya katakan, "Saya tidak masuk penjara yah, ini cuma mau berkhotbah, maka disuruh memakainya, nanti dicopot lagi." Itulah perasaan Yesus Kristus. Waktu Yesus Kristus turun ke dalam dunia bersalut dengan daging. Dia bersalutkan daging dari orang berdosa. Padahal Dia tidak berdosa. Ini tidak adilnya. Yang tidak berdosa bersalut dengan daging, berpeta teladan orang berdosa. Ini dicatat dalam Roma 8:3.
Dalam Filipi 2 ada istilah "Peta Teladan Budak", juga ada istilah "Peta Teladan Allah", dan di dalam Roma 8:3 "Peta Teladan Berdosa". Yesus Kristus adalah peta teladan Allah yang asli, dimana kita semua dicopy dari Dia, sehingga kita menurut Peta Teladan Allah. Tetapi yang asli telah datang ke dalam dunia memakai peta teladan budak dan peta teladan dosa. Sewaktu saya membaca Roma 8:3, Filipi 2:5-7, saya ingin menangis, karena Dia yang tidak berdosa harus berpeta teladan seperti itu mengganti engkau dan saya, supaya satu hari nanti kita boleh melepaskan peta teladan orang berdosa dan peta teladan budak, lalu boleh mendapatkan kebebasan, kemerdekaan peta teladan Allah. Inilah butir keenam. Dia diadili.
Selama 24 jam, Dia diadili 6 kali oleh 4 macam manusia. Yang pertama, Herodes, mewakili politik yang tidak beres. Kedua, Pilatus, yang mewakili korupsi antara hukum dan politik. Ketiga, diadili oleh orang Yahudi yang mewakili massa yang buta. Keempat, Dia diadili oleh imam besar yang mewakili agama yang munafik. Yesus Kristus, di dalam 24 jam itu, sepanjang malam setelah keluar dari tempat perjamuan suci menuju Getsemani, setelah berdoa 3 kali, Dia meneteskan keringat seperti darah, "O, Bapa, singkirkan cawan ini daripada-Ku." Sesudah itu Ia mengatakan,"Kehendak-Mu yang jadi, bukan kehendak-Ku." Lalu Yesus Kristus dibawa, sepanjang macam 6 kali diadili dan Dia tidak mengeluarkan satu kalimat pun membela diri. Satu kalimat pun tidak keluar dari mulut Yesus untuk membela diri. Dia diam, menyerahkan diri di hadapan Allah yang Maha Adil. Biar diejek, dipukul, ditolak dihakimi, dihina, namun Dia tinggal diam.
Sampai pada kesempatan-Nya, Dia baru berbicara. "Apakah Kau Anak Allah?" Dia menjawab, "Ya." "Apakah Kau raja orang Yahudi?" "Ya." Yesus tidak boleh tidak mengatakan "Ya" pada saat-saat itu. Jikalau Yesus Kristus menyangkal, berarti seluruh ajaran-Nya selama 3 tahun itu adalah omong kosong. Yesus Kristus, pada saat paling krisis, harus mempertahankan kebenaran yang tidak tergoncangkan. Memang Saya Anak Allah. Memang Saya Kristus. Memang Saya dilahirkan sebagai Raja. Dia menjawab pemimpin-pemimpin agama, pemimpin-pemimpin politik, dengan kalimat yang tegas. Dan hal itulah yang mengakibatkan Dia harus mati, tapi Dia sudah bersedia karena memang Dia dilahirkan untuk diadili.
Terakhir, Yesus Kristus dilahirkan untuk dikorbankan di atas kayu salib. Dilahirkan untuk dipaku di atas Golgota. Dilahirkan untuk mati. Kita semua yang pernah menjadi ayah dan ibu, mengetahui bagaimana bersukacita mendapatkan anak, bukan? Pada waktu anak itu lahir, apa perasaanmu? Oh, semua orang yang pertama kali menjadi ayah mempunyai perasaan, "Saya menjadi papa, loh!" Hati menjadi sangat senang. Siapa yang pada saat memperoleh anak mengatakan, "Anak kalau sudah dilahirkan, besok akan mati." Di hari pertama tentunya tidak ada yang berbicara seperti ini, bukan? Hanya ada satu orang yang dilahirkan pasti mati dan matinya bukan karena dosa sendiri. Mati karena orang lain. Siapakah? Yesus Kristus.

Baca Juga: YESUS KAYA JADI MISKIN, SUPAYA MISKIN JADI KAYA (2 KORINTUS 8:9)

Mari kita merenungkan kembali malam pertama Natal. Perasaan perasaan di surga, ada 2 macam. Satu macam perasaan adalah perasaan Sang Bapa dan Roh Kudus, Oknum pertama dan ketiga Allah Tritunggal. Mereka melihat oknum kedua turun ke dalam dunia dan dengan segala keadaan yang serius menunggu bagaimana manusia menyambut Yesus Kristus. Dia tidak diterima di hotel yang indah, Dia tidak diterima di dalam istana, tetapi Dia diterima di kandang binatang. Pada waktu hari Natal, kita melihat kandang binatang di sini, coba lihat, bagus... bersih... Baunya juga enak. Tapi waktu Yesus Kristus lahir bukan di tempat seperti ini! Ini cuma modelnya. Ada orang membuat baju gembala bagus sekali. Saya kira itu tidak benar. Mesti membuat baju gembala seperti pengemis karena gembala-gembala waktu itu memang miskin. Sekarang kita memperindah semuanya, pohon Natal indah, semua indah. Ini semua omong kosong!
Ketika lahir di dunia, Yesus Kristus betul-betul berada di tempat binatang, bau, kotor. Kalau pada hari pertama Yesus Kristus lahir, engkau berada di kandang, pasti engkau lari. Apalagi yang suka pakai parfum. Engkau menjadi orang "Kristen Parfum", mau pikul salib? Saya tidak percaya engkau bisa memikul salib. Omong-kosong. Itulah poin terakhir, Dia dilahirkan untuk mati.YESUS KRISTUS DILAHIRKAN UNTUK MENDERITA.


Pdt. DR. Stephen Tong.
https://teologiareformed.blogspot.com/2018/12/yesus-kristus-dilahirkan-untuk-menderita.html#

Tags