Latest News

Showing posts with label Tafsiran. Show all posts
Showing posts with label Tafsiran. Show all posts

Tuesday, January 22, 2019

TAFSIRAN KEJADIAN 3:14-15

TAFSIRAN KEJADIAN 3:14-15

TAFSIRAN KEJADIAN 3:14-15. Kejadian 3:14-15 - “(14) Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: ‘Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. (15) Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’”. 

I) Hukuman kepada ular.

Kejadian 3: 14: “Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: ‘Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu”.

Ada beberapa hal yang perlu dibahas tentang Kejadian 3: 14 ini:

1) Ada yang menafsirkan bahwa Kejadian 3: 14 ini hanya ditujukan kepada setan.

Jamieson, Fausset & Brown termasuk yang mempunyai pandangan ini. Jamieson, Fausset & Brown mengatakan bahwa pandangan biasanya tentang hasil kutukan ini adalah bahwa oleh suatu mujijat penampilan dan gaya / cara berjalan dari ular diubah dari bentuk / cara yang anggun menjadi merangkak dalam posisi tertelungkup di tanah, dan menjadi suatu type dari semua yang adalah menjijikkan, dan rendah, sehingga ular sekarang dicap sebagai suatu keburukan.

Jamieson, Fausset & Brown lalu melanjutkan dengan mengatakan bahwa penafsiran tradisionil kuno ini telah dibuktikan sebagai sama sekali tidak bisa diterima, oleh ilmu pengetahuan jaman modern, karena ilmu pengetahuan modern menyatakan bahwa gaya berjalan ular yang merangkak pada perutnya merupakan gaya berjalan yang alamiah bagi ular, dan bukan merupakan hukuman yang merendahkannya dari gaya berjalan yang tegak. Ia mengutip kata-kata Dr. Pye Smith yang mengatakan bahwa anatomi tubuh ular memang sesuai dengan cara berjalan merangkak seperti itu. Dan ia juga mengatakan bahwa orang yang mengatakan bahwa ular berubah cara berjalannya dari tegak, atau dengan menggunakan sayap, menjadi merangkak pada perutnya, adalah orang yang sama sekali tidak mengerti tentang anatomi tubuh ular.

Juga kalau dikatakan sebagai ‘makan debu’, itu tidak benar untuk ular, karena kalau ular mau memakan mangsanya, ia mengangkat kepalanya lebih dulu, dan karena itu tidak memakan debu.

Jamieson, Fausset & Brown menambahkan bahwa hal terakhir tentang ini adalah bahwa telah dipastikan oleh ahli-ahli geologia bahwa ular persis dalam bentuk dan kebiasaan dengan jenis binatang ini yang hidup di bumi pada jaman sebelum Adam! Untuk hal terakhir ini Jamieson, Fausset & Brown mendukung pandangannya dengan mengutip kata-kata Profesor Owen. 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Upon thy belly shalt thou go, and dust shalt thou eat.’ The ordinary view of the effect of the curse is, that by a sudden and signal miracle the appearance and the gait of the serpent tribe were changed from what these were at first; that from originally walking erect, and being a model of grace and elegance in form, it was doomed to creep in a prostrate attitude on the ground, and become a type of all that is odious, repulsive, and low, so that it is now branded with infamy. This old traditionary interpretation, however, the science of modern times has shown to be utterly inadmissible; because ‘going upon the belly’ is the gait natural to serpents, and not a penal degradation from an erect posture. ‘Their progression,’ says Dr. Pye Smith, ‘is produced by the pushing of scales, shields, or rings against the ground, by muscular contractions and dilatations, by elastic springings, by vertical undulations, or by horizontal wrigglings; but the entire organization - skeleton, muscles, nerves, integuments - is adapted to the mode of progression belonging to the reptile tribe. That mode is sufficiently easy and rapid (often very rapid) for all the purposes of the animal’s life, and the amplitude of its enjoyment. To imagine this mode of motion to be, in any sense, a change from a prior attitude and habit of the erect kind, or being furnished with wings, indicates a total ignorance of the anatomy of serpents.’ Moreover, so far from its being the case that serpents were, by a judicial act of the Creator, thrust out of their primitive and allotted place into an anomalous and less favourable condition, they, as ophidia, occupy their proper natural place in the graduated scale of animal life, and are closely united in an intermediate position with other species of the same great reptile family, by such a beautiful progression that their existence and special configuration are necessary to supply an important link in the harmonious chain of nature. Further, they are carnivorous, ‘and their food,’ as the writer above referred to remarks, ‘according to the size and power of the species, is taken from the tribes of insects, worms, frogs, toads, and newts, birds, mice, and other small quadrupeds, until the scale ascends to the pythons and boas, which can master and swallow very large animals. They do not necessarily, from their wriggling motion, ‘eat the dust;’ for they habitually obtain their food among herbage or in water; they seize their prey with the mouth, often elevate the head, and are no more exposed to the necessity of swallowing adherent earth than are carnivorous birds or quadrupeds.’ Lastly, it has been clearly ascertained by geological researches that serpents exactly similar in form and habits to the existing species lived on the pre-Adamite earth. ‘It is,’ says Professor Owen, ‘a palaeontological fact, that the ophidian peculiarities and complexities of organization, in designed subserviency to a prone posture and a gliding progress on the belly were given, together with the poison apparatus, by the Creator, when, in the progressive preparation of the dry land, but few, and those only the lower organized species, now our contemporaries, had been called into existence - before any of the actual kinds of mammalia trod the earth, and long ages before the creation of man’ (Exeter Hall Lectures; also, ‘Transactions of the Geological Society of London’)” (= ). 

Tanggapan saya:

a) Saya tak terkesan sama sekali dengan ‘penjelasan ilmiah’ ini, karena kalau Tuhan memang mengutuk dengan membuat ular yang tadinya berjalan tegak / atau punya kaki, menjadi ular yang kita kenal sekarang ini, maka Ia pasti mengubah anatomi ular menjadi seperti yang sekarang ini. Jadi, mungkin sekali dulunya anatomi ular tidak seperti sekarang ini.

Saya akan memberikan tafsiran Calvin tentang Kejadian 3:1, dimana dikatakan: “Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?’”.

Calvin lalu mengatakan bahwa sekarang ular bukan binatang yang paling cerdik, karena jelas ada banyak binatang yang lebih ‘pandai’ dari ular (seperti simpansee, anjing, dsb), tetapi Calvin menganggap itu sebagai efek / hasil / akibat dari kutuk kepada ular dalam Kejadian 3:14, yang lalu mencabut kecerdikannya yang paling tinggi tersebut.

Kalau kutuk itu bisa mengubah ular dalam hal kecerdikannya, saya yakin itu juga bisa mengubah ular dalam bentuk, anatomi, maupun gaya berjalannya.

Calvin (tentang Kej 3:1): “there would be nothing absurd in saying, that the gift which had proved so destructive to the human race has been withdrawn from the serpent: just, as we shall hereafter see, other punishments were also inflicted upon it” [= Tak ada apapun yang menggelikan untuk mengatakan bahwa karunia (kecerdikan) yang telah terbukti begitu menghancurkan bagi umat manusia telah ditarik dari ular: sama seperti, seperti yang akan kita lihat selanjutnya, hukuman-hukuman lain juga diberikan kepadanya].

Saya beranggapan bahwa ular tetap adalah binatang yang cerdik, karena kalau tidak, Tuhan Yesus tak akan mengatakan dalam Mat 10:16 - “‘Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”.

Tetapi, sekarang ia bukan lagi yang paling cerdik dari semua binatang darat.

Catatan: sekalipun saya percaya adanya binatang-binatang yang cerdik / pandai, tak berarti bahwa saya mempercayai bahwa binatang adalah makhluk berakal. Selain manusia yang adalah makhluk berakal karena manusia adalah gambar dan rupa Allah, maka hanya Allah sendiri dan malaikat / setan yang adalah makhluk berakal.

Adam Clarke bahkan menganggap bahwa dulu ular bisa bicara, dan karunia itu juga ditarik dari dia, sebagai hasil / akibat kutukan dalam Kejadian 3:14 ini. Tetapi saya ragu-ragu tentang hal ini. Apakah ular dulu memang bisa berbicara, atau setan yang berbicara melalui ular itu. Saya jauh lebih condong pada tafsiran yang kedua.

b) Tentang adanya ular sebelum jamannya Adam, saya anggap ini cuma omong kosong dari ilmuwan. Dan saya betul-betul tidak mengerti bagaimana orang seperti Jamieson, Fausset & Brown bisa menerima pandangan seperti itu.

c) Bandingkan dengan kata-kata Keil & Delitzsch di bawah ini.

Keil & Delitzsch: “If these words are not to be robbed of their entire meaning, they cannot be understood in any other way than as denoting that the form and movements of the serpent were altered, and that its present repulsive shape is the effect of the curse pronounced upon it, though we cannot form any accurate idea of its original appearance” (= Jika kata-kata ini tidak dirampok dari arti seluruhnya, kata-kata ini tidak bisa dimengerti dengan cara lain manapun sebagai menunjukkan bahwa bentuk dan pergerakan dari ular diubah, dan bahwa bentuk menjijikkan yang sekarang ini merupakan akibat / hasil dari kutuk yang diucapkan terhadapnya, sekalipun kita tidak bisa membentuk gagasan yang akurat tentang penampilan orisinilnya).

Keil & Delitzsch: “Going upon the belly (= creeping, Lev 11:42) was a mark of the deepest degradation; also the eating of dust, which is not to be understood as meaning that dust was to be its only food, but that while crawling in the dust it would also swallow dust (cf. Mic 7:17; Isa 49:23)” [= Berjalan pada perutnya (= merangkak, Im 11:42) merupakan tanda dari penurunan yang terdalam; juga makan debu, yang tidak boleh dimengerti sebagai berarti bahwa debu merupakan makanannya satu-satunya, tetapi sementara merangkak di debu ia juga akan menelan debu (bdk. Mikha 7:17; Yes 49:23)].

Mik 7:17 - “Biarlah mereka menjilat debu seperti ular, seperti binatang menjalar di bumi; biarlah mereka keluar dengan gemetar dari kubunya, dan datang kepada TUHAN, Allah kami, dengan gentar, dengan takut kepadaMu!”.

Yes 49:23 - “Maka raja-raja akan menjadi pengasuhmu dan permaisuri-permaisuri mereka menjadi inangmu. Mereka akan sujud kepadamu dengan mukanya sampai ke tanah dan akan menjilat debu kakimu. Maka engkau akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, dan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Aku tidak akan mendapat malu.’”.

Setelah menolak pandangan bahwa kata-kata kutukan itu menunjuk kepada ular, Jamieson, Fausset & Brown lalu mengemukakan pandangannya sendiri bahwa kutukan itu harus diartikan sebagai suatu kiasan, dan berlaku untuk makhluk jahat, yang telah menjadikan ular itu sebagai alatnya. Jadi, berjalan dengan perutnya, maupun makan debu tanah, harus diartikan juga sebagai kiasan, dan menunjukkan perendahan yang Allah lakukan terhadap setan, yang tadinya adalah ‘seorang malaikat terang’.

Jamieson, Fausset & Brown: “The language of the inspired historian, therefore, must be interpreted figuratively, and with reference to that malignant being of whom the animal serpent was the humble instrument. Just as going on the belly indicates lowness of rank in the scale of animal existence, and to bite or lick the dust is a common metaphor for the conquest and ignominious humility of a proud, presumptuous foe, so both these phrases are to be understood as intimating that Satan, from being originally ‘an angel of light,’ belonging to a high order of intellectual beings, and formed for pure and exalted objects, would become a wretched creature, groveling in the dust of the basest pursuits, and doomed to a condition of perpetual meanness and ignominy” (= ). 

Tanggapan saya: Saya lagi-lagi tak bisa menerima kata-kata Jamieson, Fausset & Brown di atas ini, karena setan jatuh dari posisi malaikat bukan pada saat ini tetapi sudah sebelumnya.

2) Pada umumnya para penafsir menganggap bahwa Kejadian 3: 14 ini, sekalipun juga ditujukan kepada ular, tetapi terutama ditujukan kepada setan.

Adam Clarke menganggap bahwa Kejadian 3:14 harus dianggap sebagai hukuman ganda, yang satu kepada setan, dan yang lain kepada ular. Ular betul-betul direndahkan, dan dicabut kemampuan bicaranya. Juga ular dikutuk sehingga sekarang merangkak dengan perutnya dan makan debu tanah. Clarke melanjutkan dengan mengatakan bahwa Allah menganggap cocok untuk menyatakan ketidak-senangannya terhadap ular yang diperalat oleh setan, dan ia berkata bahwa ini mungkin disebabkan karena ularnya sendiri memang ikut ambil bagian dalam menggoda Hawa, dan Clarke menambahkan bahwa ular itu memang punya kemampuan untuk itu, dan Clarke manganggap ia punya alasan untuk mempercayai bahwa ular itu menjadi alat setan dengan sukarela.

Adam Clarke: “‘And the Lord God said unto the serpent.’ ... here we must consider a twofold sentence, one on Satan and the other on the agent he employed. The naachaash whom I suppose to have been at the head of all the inferior animals, and in a sort of society and intimacy with man, is to be greatly degraded, entirely banished from human society, and deprived of the gift of speech. Cursed art thou above all cattle, and above every beast of the field - thou shalt be considered the most contemptible of animals; upon thy belly shalt thou go - thou shalt no longer walk erect, but mark the ground equally with thy hands and feet, and dust shalt thou eat - though formerly possessed of the faculty to distinguish, choose, and cleanse thy food, thou shalt feed henceforth like the most stupid and abject quadruped, all the days of thy life - through all the innumerable generations of thy species. God saw meet to manifest his displeasure against the agent employed in this melancholy business; and perhaps this is founded on the part which the intelligent and subtle naachaash took in the seduction of our first parents. We see that he was capable of it, and have some reason to believe that he became a willing instrument” (= ). 

Saya sendiri tak setuju dengan bagian akhir kata-kata Clarke ini. Bandingkan dengan kata-kata Calvin tentang Kejadian 3:14, dimana Calvin berkata sebagai berikut: “Moses, indeed, says that the serpent was a skillful and cunning animal; yet it is certain, that, when Satan was devising the destruction of man, the serpent was guiltless of his fraud and wickedness” (= Musa, memang berkata bahwa ular itu adalah binatang yang ahli dan cerdik; tetapi adalah pasti bahwa pada waktu setan sedang merencanakan kehancuran manusia, ular itu tidak bersalah tentang penipuan dan kejahatannya).

Catatan: kata ‘nya’ yang terakhir menunjuk kepada Iblis.

Dan dalam tafsirannya tentang Kej 3:1, Calvin mengatakan sebagai berikut: “when Moses says that the serpent was crafty beyond all other animals, he seems to intimate, that it had been induced to deceive man, not by the instigation of Satan, but by its own malignity. I answer, that the innate subtlety of the serpent did not prevent Satan from making use of the animal for the purpose of effecting the destruction of man. For since he required an instrument, he chose from among animals that which he saw would be most suitable for him” (= pada saat Musa mengatakan bahwa ular itu lebih cerdik dari semua binatang yang lain, kelihatannya ia mengisyaratkan bahwa ular itu telah dibujuk untuk menipu manusia, bukan oleh dorongan / hasutan Iblis, tetapi oleh kejahatannya sendiri. Saya menjawab, bahwa kecerdikan, yang merupakan pembawaan sejak lahir dari ular itu, tidak menghalangi Iblis untuk menggunakan binatang itu untuk tujuan menghancurkan manusia. Karena ia membutuhkan suatu alat, ia memilih dari antara binatang yang ia anggap paling cocok baginya).

Dan dalam tafsirannya tentang Kej 3:1, Calvin menambahkan kata-kata ini: “But the testimonies of Scripture are sufficiently numerous, in which it is plainly asserted that the serpent was only the mouth of the devil; for not the serpent but the devil is declared to be ‘the father of lies,’ the fabricator of imposture, and the author of death” (= Tetapi kesaksian-kesaksian dari Kitab Suci ada cukup banyak, dalam mana dengan jelas ditegaskan bahwa ular itu hanya merupakan mulut dari Iblis; karena bukan ular itu, tetapi Iblis, yang dinyatakan sebagai ‘bapa segala dusta’, pembuat penipuan, dan pencipta dari kematian).

Keil & Delitzsch: “When God addressed the animal, and pronounced a curse upon it, this presupposed that the curse had regard not so much to the irrational beast as to the spiritual tempter, and that the punishment which fell upon the serpent was merely a symbol of his own. The punishment of the serpent corresponded to the crime. It had exalted itself above the man; therefore upon its belly it should go, and dust it should eat all the days of its life. ... Although this punishment fell literally upon the serpent, it also affected the tempter in a figurative or symbolical sense. He became the object of the utmost contempt and abhorrence; and the serpent still keeps the revolting image of Satan perpetually before the eye” (= Pada waktu Allah menujukan kata-kataNya kepada binatang itu, dan mengumumkan suatu kutuk kepadanya, ini mensyaratkan bahwa kutuk itu tidak begitu banyak berkenaan dengan binatang yang tak berakal itu seperti dengan sang pencoba / penggoda rohani, dan bahwa hukuman yang jatuh kepada ular semata-mata merupakan simbol dari hukuman Iblis sendiri. Hukuman dari ular sesuai dengan kejahatan itu. Ular itu telah meninggikan dirinya sendiri di atas manusia; karena itu pada perutnya ia akan berjalan, dan debu harus ia makan sepanjang hidupnya. ... Sekalipun hukuman ini secara hurufiah jatuh kepada ular itu, itu juga mempengaruhi si pencoba / penggoda dalam suatu arti kiasan atau simbolis. Ia menjadi obyek dari kejijikan dan kebencian yang paling tinggi; dan sang ular tetap menjadi gambar pemberontakan dari Iblis selama-lamanya di depan mata).

Bdk. Yes 65:25 - “Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunungKu yang kudus,’ firman TUHAN”.

Catatan: mungkin yang dmaksudkan dengan ‘ular’ dalam Yes 65:25 ini menunjuk kepada setan. Ia tetap akan direndahkan selama-lamanya.

Albert Barnes menambahkan bahwa dalam golongan / jenis ular ini mungkin termasuk cacing tanah, yang berjalan dengan perutnya dan betul-betul makan debu / tanah. Tetapi ia tetap mengatakan bahwa kata-kata ini mempunyai penerapan yang lebih tinggi kepada sang penggoda / pencoba yang sebenarnya (Iblis).

Barnes’ Notes: “Verse 14,15. Here begins the judgment. ... This sentence has a literal application to the serpent. The curse (Gen 9:25, see the note) of the serpent lies in a more groveling nature than that of the other land animals. This appears in its going on its belly and eating the dust. Other animals have at least feet to elevate them above the dust; the serpent tribe does not have even feet. Other animals elevate the head in their natural position above the soil: the serpent lays its head naturally on the sod, and therefore may be said to eat the dust, as the wounded warrior bites the dust in death. The earthworm is probably included in the description here given of the serpent group. It goes upon its belly, and actually does eat the dust. Eating the dust, like feeding upon ashes, is an expression for signal defeat in every aim. ... However, since an evil spirit must have employed the serpent, since the animal whose organs and instincts were most adapted to its purpose, and has accordingly derived its name from it as presenting the animal type most analogous to its own spiritual nature, so the whole of this sentence has its higher application to the real tempter” (= ). 

3) Kalau kata-kata ini memang juga ditujukan kepada ular, maka muncul pertanyaan: Mengapa ular itu harus dihukum / dikutuk? Bukankah ia hanya binatang yang dipakai oleh setan, dan tak berdaya menolak setan?

Calvin menganggap ular itu tak bersalah, tetapi ia lalu menambahkan bahwa tidak ada yang tidak benar dengan tindakan mengutuk binatang, yang telah diciptakan bagi manusia, tetapi yang lalu digunakan untuk menghancurkan manusia. Ia juga mengatakan bahwa dengan ini Allah menunjukkan betapa tinggi Ia menilai keselamatan manusia. Juga bahwa tindakan ini sama seperti seorang bapa yang dengan jijik memegang pedang yang telah dipakai untuk membunuh anaknya. Keil & Delitzsch mengutip Chrysostom, yang mengatakan kata-kata yang mirip dengan itu, yaitu ‘Ini seperti seorang bapa yang pada waktu menghukum pembunuh anaknya, mematahkan belati atau pedang yang dipakai untuk membunuh anaknya’. Calvin menambahkan lagi bahwa kalau Allah begitu hebat dalam membalas dendam kepada binatang yang digunakan untuk menghancurkan manusia, lebih-lebih Ia akan menghukum Iblis.

Bisa juga ditambahkan bahwa dalam hukum Taurat, Allah sendiri memerintahkan penghancuran / pembunuhan terhadap binatang yang membunuh orang. Juga pada waktu terjadi hubungan sex manusia dengan binatang, maka diperintahkan untuk menghukum mati, bukan hanya manusianya, tetapi juga binatangnya.

Kel 21:28-29 - “(28) Apabila seekor lembu menanduk seorang laki-laki atau perempuan, sehingga mati, maka pastilah lembu itu dilempari mati dengan batu dan dagingnya tidak boleh dimakan, tetapi pemilik lembu itu bebas dari hukuman. (29) Tetapi jika lembu itu sejak dahulu telah sering menanduk dan pemiliknya telah diperingatkan, tetapi tidak mau menjaganya, kemudian lembu itu menanduk mati seorang laki-laki atau perempuan, maka lembu itu harus dilempari mati dengan batu, tetapi pemiliknyapun harus dihukum mati”.

Im 20:15-16 - “(15) Bila seorang laki-laki berkelamin dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati, dan binatang itupun harus kamu bunuh juga. (16) Bila seorang perempuan menghampiri binatang apapun untuk berkelamin, haruslah kaubunuh perempuan dan binatang itu; mereka pasti dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri”.

Calvin: “it is certain, that, when Satan was devising the destruction of man, the serpent was guiltless of his fraud and wickedness. ... If it seem to any one absurd, that the punishment of another’s fraud should be exacted from a brute animal, the solution is at hand; that, since it had been created for the benefit of man, there was nothing improper in its being accursed from the moment that it was employed for his destruction. And by this act of vengeance God would prove how highly he estimates the salvation of man; just as if a father should hold the sword in execration by which his son had been slain. ... But if God so severely avenged the destruction of man upon a brute animal, much less did he spare Satan, the author of the whole evil, as will appear more clearly in the concluding part of the address” (= ). 

Keil & Delitzsch: “The curse fell upon the serpent for having tempted the woman, according to the same law by which not only a beast which had injured a man was ordered to be put to death (Gen 9:5; Ex 21:28-29), but any beast which had been the instrument of an unnatural crime was to be slain along with the man (Lev 20:15-16); not as though the beast were an accountable creature, but in consequence of its having been made subject to man, not to injure his body or his life, or to be the instrument of his sin, but to subserve the great purpose of his life. ‘Just as a loving father,’ as Chrysostom says, ‘when punishing the murderer of his son, might snap in two the sword or dagger with which the murder had been committed.’” (= ). 

4) Awal dari Injil yang pertama (protevangelium).

The Biblical Illustrator (Old Testament): “The beginning of the gospel: - These words have been appropriately called the ‘Protevangelium,’ the first gospel. At first sight it seems strange that these words should be considered the beginning of the gospel. The form is not that of a gospel but of a curse. It is the first curse that we meet with in reading the Bible. But think a moment. On whom, on what is it a curse? It is a curse on the great adversary of mankind. It is a curse upon evil - on sin, and death and hell. ... But can the gospel come in the form of a curse? It can - nay, it must. There are those who, shutting their eyes to the terrible fact of sin with all its dreadful consequences, as they are seen in the world, please themselves and try to please others by preaching a gospel of easy good nature, of love and mercy and goodwill to all mankind - a sort of universal salvation on the easiest terms possible, or without any terms at all. But sin and its terrible consequences are fearful facts that cannot be ignored. ‘Love is the fulfilling of the law,’ and the end of the gospel; but hatred - hatred of sin - is the only portal to true, and pure, and holy love. When the Spirit, the Comforter, comes, what is the first thing He does? He convinces of sin (John 16:8,9)” [= Permulaan / awal dari injil: - Kata-kata ini secara tepat telah disebut ‘PROTEVANGELIUM’, injil yang pertama. Pada pandangan pertama kelihatannya aneh bahwa kata-kata ini harus dianggap sebagai permulaan / awal dari injil. Bentuknya bukan bentuk dari injil (kabar baik) tetapi dari suatu kutuk. Itu adalah kutuk yang pertama yang kita temui dalam membaca Alkitab. Itu adalah kutuk terhadap kejahatan - terhadap dosa, dan kematian dan neraka. ... Tetapi bisakah injil datang dalam bentuk dari suatu kutuk? Bisa, bahkan harus. Ada orang-orang yang menutup mata mereka terhadap fakta yang buruk sekali dari dosa dengan semua konsekwensinya yang menakutkan, seperti hal-hal itu terlihat dalam dunia, menyenangkan diri mereka sendiri dan mencoba untuk menyenangkan orang-orang lain dengan memberitakan injil yang bersifat baik dan mudah / pemurah, injil dari kasih dan belas kasihan dan kehendak baik kepada seluruh umat manusia - suatu jenis keselamatan universal berdasarkan syarat-syarat yang semudah mungkin, atau tanpa syarat-syarat apapun. Tetapi dosa dan konsekwensinya yang menakutkan adalah fakta-fakta yang menakutkan yang tidak bisa diabaikan. ‘Kasih adalah kegenapan dari hukum Taurat’ (Ro 13:10), dan adalah tujuan dari injil; tetapi kebencian - kebencian terhadap dosa - adalah satu-satunya pintu gerbang pada kasih yang benar dan murni dan kudus. Pada waktu Roh, sang Penghibur, datang, hal pertama apa yang Ia lakukan? Ia menginsyafkan / meyakinkan tentang dosa (Yoh 16:8,9)].

Kejadian 3:14-15(2)

II) Hukuman kepada setan / janji untuk manusia.

Kejadian 3: 15: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’”.

1) Calvin berkata bahwa pada waktu menghadapi setan tak ada pertanyaan interogasi seperti pada waktu menghadapi manusia (Adam dan Hawa). Padahal Allah mempunyai otoritas untuk langsung memberi hukuman tanpa menanyai mereka. Lalu mengapa ada perbedaan seperti ini?

Juga pada waktu memberikan hukuman, Allah mulai menyatakan hukuman kepada ular / setan, dan baru setelah itu kepada Adam dan Hawa.

Calvin mengatakan bahwa semua ini jelas menunjukkan bahwa pada saat ini Allah lebih bertindak sebagai dokter dari pada sebagai hakim. Hukuman untuk manusia bersifat untuk memperbaiki, dan dengan tujuan mempertobatkan, tetapi untuk setan sama sekali tidak demikian.

Calvin: “Why then does he call them to undergo examination, except that he has a care for their salvation? This doctrine is to be applied to our benefit. There would be no need of any trial of the cause, or of any solemn form of judgment, in order to condemn us; wherefore, while God insists upon extorting a confession from us, he acts rather as a physician than as a judge. There is the same reason why the Lord before he imposes punishment on man, begins with the serpent. For corrective punishments (as we shall see) are of a different kind, and are inflicted with the design of leading us to repentance; but in this there is nothing of the sort” (= ). 

2) Kejadian 3: 15a: “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya”.

Apakah kata-kata ini menunjukkan akan adanya permusuhan antara manusia dengan ular? Ini tergantung apakah kata-kata ini ditujukan kepada ular, atau kepada setan.

Ada penafsir-penafsir yang menganggap bahwa kata-kata ini hanya ditujukan / berkenaan dengan setan, dan sama sekali tidak dengan ular. Kalau ini benar, maka bagian ini tidak menunjukkan akan adanya permusuhan antara manusia dengan ular. Tetapi ada juga penafsir-penafsir yang beranggapan bahwa kata-kata ini juga ditujukan / berkenaan dengan ular, sekalipun terutama ditujukan / berkenaan dengan setan. Kalau ini yang benar, maka bagian ini menunjukkan akan adanya permusuhan antara manusia dengan ular. Calvin termasuk yang mempercayai pandangan kedua ini.

a) Calvin menganggap bahwa ini menunjuk pada permusuhan antara manusia dengan ular, dan Kejadian 3: 15b-nya menunjukkan bahwa manusia akan lebih superior dari ular. Jadi, tetap ada dominasi manusia terhadap ular / binatang.

b) Adam Clarke tak setuju dengan pandangan yang menyatakan bahwa permusuhan yang dikatakan Allah ini adalah permusuhan antara manusia dan ular. Alasannya, dalam faktanya hal itu tidak benar. Tidak ada bukti bahwa ular membenci manusia, dan juga tidak benar bahwa binatang yang paling dibenci manusia adalah ular.

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa semua ini tidak boleh dihurufiahkan, dan dalam semua ini hanya setan yang dimaksudkan oleh Tuhan.

Saya sendiri setuju dengan Clarke, dan saya berpendapat bahwa berbeda dengan Kejadian 3: 14 yang memang ditujukan kepada ular, maka Kejadian 3: 15 ditujukan hanya kepada setan. Jadi, permusuhan yang dibicarakan dalam ay 15 adalah permusuhan manusia dengan setan.

3) “antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’”.

KJV: ‘and between thy seed and her seed; it shall bruise thy head, and thou shalt bruise his heel’ (= dan antara benihmu dan benihnya; itu akan mememarkan kepalamu, dan engkau akan mememarkan tumitnya).

NIV: ‘and between your offspring and hers; he will crush your head, and you will strike his heel.’’ (= dan antara keturunanmu dan keturunannya; ia akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan memukul tumitnya).

Catatan: terjemahan ‘it’ (= itu) dari KJV salah; seharusnya ‘he’ (= ia) seperti dalam NIV. Tetapi yang aneh dari NIV adalah bahwa NIV menterjemahkan ‘crush’ (= menghancurkan untuk kata kerja yang pertama tetapi menterjemahkan ‘strike’ (= memukul untuk kata kerja yang kedua, padahal keduanya menggunakan kata Ibrani yang sama.

Sekarang, siapa yang dimaksud dengan ‘keturunanmu’ (thy / your seed) dan ‘keturunannya’ (her seed)??

a) ‘keturunanmu’ (thy / your seed).

Ini menunjuk kepada orang-orang yang tidak percaya, yang merupakan anak-anak setan (secara rohani).

Barnes’ Notes: “The spiritual agent in the temptation of man cannot have literally any seed. But the seed of the serpent is that portion of the human family that continues to be his moral offspring, and follows the first transgression without repentance or refuge in the mercy of God” (= ). 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘And between thy seed and her seed,’ (zera`) - the act of sowing, as well as seed, though used in reference to an individual (Gen 4:25; 21:13), commonly denotes plurality, and is equivalent to children, progeny, posterity (Gen 13:16; 15:5,13; 17:7,10; Ps 22:23; cf. 2 Kings 11:1). ... ‘the seed of the serpent,’ a designation, in this context, and conformably to Scripture usage elsewhere, of the wicked portion of mankind (cf. John 8:44; 13:38, with Matt 23:33; 1 John 3:8)” (= ). 

Yoh 8:44 - “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta”.

Yoh 13:38 - ini pasti salah cetak. Mungkin maksudnya Mat 13:38 - “ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat”.

Mat 23:33 - “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?”.

1Yoh 3:8 - “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu”.

b) ‘keturunannya’ (her seed).

1. Penafsiran sesat dari Gereja Roma Katolik.

Tentang ‘seed’ / benih / keturunan perempuan, Gereja Roma Katolik menafsirkan ini menunjuk kepada Maria, ibu Yesus. Calvin dan Wycliffe mengecam penafsiran ini.

Calvin: “a profane exposition of it has been invented, by applying to the mother of Christ what is said concerning her seed” (= suatu exposisi yang kotor / duniawi tentang bagian ini ditemukan, dengan menerapkannya kepada ibu dari Kristus apa yang dikatakan berkenaan dengan benihnya / benih perempuan itu).

Wycliffe: “An unfortunate translation in the Vulgate changes the pronoun ‘his’ (v. 15c) from the masculine to the feminine, providing spurious support for unfounded claims concerning ‘the Blessed Virgin Mary.’” [= Suatu terjemahan yang patut disayangkan dalam Vulgate mengubah kata ganti orang ‘his’ (ay 15c) dari bentuk laki-laki menjadi bentuk perempuan, menyediakan suatu dukungan palsu untuk claim yang tak berdasar berkenaan dengan ‘perawan Maria yang diberkati’].

2. Kata ‘keturunannya’ [Lit: ‘her seed’ (= benihnya)] menunjuk kepada gereja / orang-orang percaya.

Calvin: “as the perpetuity of the contest is noted, so victory is promised to the human race through a continual succession of ages. I explain, therefore, the seed to mean the posterity of the woman generally. But since experience teaches that not all the sons of Adam by far, arise as conquerors of the devil, we must necessarily come to one head, that we may find to whom the victory belongs” (= ). 

Catatan: kata-kata Calvin di atas ini agak membingungkan. Saya tak pasti apa yang ia maksudkan. 

Calvin: “In the meantime, we must keep in mind that method of conquering which the Scripture describes. Satan has, in all ages, led the sons of men ‘captive at his will’, and, to this day, retains his lamentable triumph over them, and for that reason is called the prince of the world, (John 12:31.) But because one stronger than he has descended from heaven, who will subdue him, hence it comes to pass that, in the same manner, the whole Church of God, under its Head, will gloriously exult over him. To this the declaration of Paul refers, ‘The Lord shall bruise Satan under your feet shortly,’ (Romans 16:20.) By which words he signifies that the power of bruising Satan is imparted to faithful men, and thus the blessing is the common property of the whole Church; but he, at the same time, admonishes us, that it only has its commencement in this world; because God crowns none but well - tried wrestlers” (= ). 

Barnes’ Notes: “The seed of the woman, on the other hand, must denote the remnant who are born from above, and hence, turn from darkness to light, and from the power of Satan unto God” (= ). 

3. Kata ‘keturunannya’ secara umum menunjuk kepada gereja / orang-orang percaya, tetapi penunjukkan kepada 1 pribadi dalam anak kalimat terakhir, menunjukkan bahwa kata-kata ini secara khusus menunjuk kepada Kristus.

Jamieson, Fausset & Brown: “But ‘the seed of the women’ being contrasted with ‘the seed of the serpent,’ a designation, in this context, and conformably to Scripture usage elsewhere, of the wicked portion of mankind (cf. John 8:44; 13:38, with Matt 23:33; 1 John 3:8), the expression must evidently be considered as restricted to the children of God, ‘who are born not of the flesh but of the spirit’ (cf. Gal 3:29); and from its denoting individuality in the following clause, as specially applied to one whose miraculous birth gave him a pre-eminent title to be called ‘the seed of the woman’ (cf. Gal 4:4)” (= ).

Gal 3:29 - “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah”.

Kelihatannya Gal 3:29 ini tidak cocok; mungkin seharusnya adalah Gal 4:29 - “Tetapi seperti dahulu, dia, yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini”.

Gal 4:4 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat”.

c) Jadi, permusuhan yang dibicarakan oleh Allah adalah permusuhan / pertempuran antara orang-orang percaya / Kerajaan Allah dan orang-orang yang tidak percaya / Kerajaan setan.

Jamieson, Fausset & Brown: “The prophecy points to a continual struggle which would be carried on between the offspring of the woman and the grand enemy of God and man: and no language could more appropriately describe the mighty conflict, of which this world, has ever since been the theatre, between the kingdom of God and the kingdom of Satan. ... Who does not now accept them as an epitomized history of the holy war which, from the moment of the fall, has been waged between the children of light and of darkness, between those who adhere to the cause of God and righteousness, and those who are ranged on the side of the Devil by their love and practice of sin?” (= ). 

Penerapan: karena itu Kitab Suci begitu mengecam persekutuan antara orang beriman dan tak beriman!

Ada beberapa contoh tentang hal seperti itu.

1. Salah satu yang paling menarik adalah persekutuan / koalisi antara raja Yosafat (Yehuda) dan Raja Ahab (Israel). Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

2Taw 18:1 - “Ketika Yosafat kaya dan sangat terhormat, ia menjadi besan Ahab”.

1Raja 22:2-4,45 - “(2) Pada tahun yang ketiga pergilah Yosafat, raja Yehuda, kepada raja Israel. (3) Berkatalah raja Israel kepada pegawai-pegawainya: ‘Tahukah kamu, bahwa Ramot-Gilead sebenarnya milik kita? Tetapi kita tinggal diam saja dan tidak merebutnya dari tangan raja negeri Aram.’ (4) Lalu katanya kepada Yosafat: ‘Maukah engkau pergi bersama-sama aku untuk memerangi Ramot-Gilead?’ Jawab Yosafat kepada raja Israel: ‘Kita sama-sama, aku dan engkau, rakyatku dan rakyatmu, kudaku dan kudamu.’ ... (45) Dan Yosafat hidup dalam damai dengan raja Israel”.

2Taw 19:1-2 - “(1) Yosafat, raja Yehuda, pulang dengan selamat ke istananya di Yerusalem. (2) Ketika itu Yehu bin Hanani, pelihat itu, pergi menemuinya dan berkata kepada raja Yosafat: ‘Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau”.

2Taw 20:35-37 - “(35) Kemudian Yosafat, raja Yehuda, bersekutu dengan Ahazia, raja Israel, yang fasik perbuatannya. (36) Ia bersekutu dengan Ahazia untuk membuat kapal-kapal yang dapat berlayar ke Tarsis. Kapal-kapal itu dibuat mereka di Ezion-Geber. (37) Tetapi Eliezer bin Dodawa dari Maresa bernubuat terhadap Yosafat, katanya: ‘Karena engkau bersekutu dengan Ahazia, maka TUHAN akan merobohkan pekerjaanmu.’ Lalu kapal-kapal itu pecah, dan tak dapat berlayar ke Tarsis”.

Catatan: Ahazia adalah anak dari Ahab.

2. Ul 7:1-6 - “(1) ‘Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, (2) dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka. (3) Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; (4) sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari padaKu, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera. (5) Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis. (6) Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayanganNya”.

3. Maz 139:21-22 - “(21) Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? (22) Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku”.

4. 1Kor 15:33 - ‘Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik’.

5. 2Kor 6:14-18 - “(14) Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (15) Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (16) Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu. (17) Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. (18) Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan anak-anakKu perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.’”.

Adam Clarke: “Some apply this exhortation to pious persons marrying with those who are not decidedly religious, and converted to God. That the exhortation may be thus applied I grant; but it is certainly not the meaning of the apostle in this place. Nevertheless, common sense and true piety show the absurdity of two such persons pretending to walk together in a way in which they are not agreed. A very wise and very holy man has given his judgment on this point: ‘A man who is truly pious, marrying with an unconverted woman, will either draw back to perdition, or have a cross during life.’ The same may be said of a pious woman marrying an unconverted man. Such persons cannot say this petition of the Lord’s prayer, Lead us not into temptation. They plunge into it of their own accord” (= Sebagian orang menerapkan nasehat / peringatan ini bagi orang-orang saleh yang menikah dengan mereka yang pasti tidak religius dan tidak bertobat kepada Allah. Bahwa nasehat / peringatan ini bisa diterapkan seperti itu, saya akui; tetapi itu pasti bukan arti dari sang rasul di tempat ini. Tetapi bagaimanapun, akal sehat dan kesalehan yang benar menunjukkan kemustahilan dari dua orang seperti itu, berpura-pura berjalan bersama-sama dalam suatu jalan dalam mana mereka tidak setuju. Seorang yang bijak dan sangat kudus telah memberikan penilaiannya tentang hal ini: ‘Seorang laki-laki yang sungguh-sungguh saleh, menikah dengan seorang perempuan yang belum bertobat, akan atau kembali pada kebinasaan, atau mempunyai sebuah salib dalam sepanjang hidupnya’. Hal yang sama bisa dikatakan tentang seorang perempuan yang saleh yang menikah dengan seorang laki-laki yang belum bertobat. Orang-orang seperti itu tidak bisa mengatakan permohonan ini dari Doa Bapa Kami, ‘Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan’. Mereka menceburkan diri ke dalamnya dengan persetujuan mereka sendiri).

Jamieson, Fausset & Brown: “‎The image is from the symbolical precept, Lev 19:19; Deut 22:10: cf. Deut 7:3, forbidding marriages with the pagan; also 1 Cor 7:39. The believer and unbeliever are utterly heterogeneous. Too close contact with unbelievers in other relations is included (2 Cor 6:16; 1 Cor 8:10)” [= Gambaran ini berasal dari ajaran simbolis, Im 19:19; Ul 22:10: bdk. Ul 7:3, melarang pernikahan dengan orang kafir; juga 1Kor 7:39. Orang percaya dan orang yang tidak percaya sama sekali berbeda. Kontak yang terlalu dekat dengan orang-orang yang tidak percaya dalam hubungan yang lain juga termasuk (2Kor 6:16; 1Kor 8:10)].

Barnes’ Notes: “It is implied in the use of the word that there is a dissimilarity between believers and unbelievers so great that it is as improper for them to mingle together as it is to yoke animals of different kinds and species. The ground of the injunction is, that there is a difference between Christians and those who are not, so great as to render such unions improper and injurious. The direction here refers doubtless to all kinds of improper connections with those who were unbelievers. It has been usually supposed by commentators to refer particularly to marriage. But there is no reason for confining it to marriage. It doubtless includes that, but it may as well refer to any other intimate connection, or to intimate friendships, or to participation in their amusements and employments, as to marriage” (= Ditunjukkan secara tak langsung dalam penggunaan kata itu bahwa ada suatu perbedaan yang begitu besar antara orang percaya dan orang yang tidak percaya sehingga merupakan sesuatu yang tidak benar bagi mereka untuk bergaul bersama-sama seperti menggabungkan dengan satu kuk binatang-binatang yang berbeda jenisnya. Dasar dari perintah ini adalah bahwa di sana ada suatu perbedaan antara orang-orang Kristen dan mereka yang bukan Kristen, begitu besar sehingga membuat persatuan seperti itu tidak benar dan membahayakan. Arah yang ditunjukkan di sini tak diragukan adalah pada semua jenis dari hubungan-hubungan yang tidak benar dengan mereka yang adalah orang-orang yang tidak percaya. Biasanya telah dianggap oleh para penafsir bahwa hal ini menunjuk secara khusus pada pernikahan. Tetapi tak ada alasan untuk membatasi hal ini pada pernikahan. Tak diragukan bahwa ini mencakup hal itu, tetapi juga bisa menunjuk pada hubungan intim lain yang manapun, atau pada persahabatan intim, atau pada partisipasi dalam hiburan / kesenangan dan pekerjaan, seperti pada pernikahan).

6. 2Yoh 10-11 - “(10) Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. (11) Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat”.

Adam Clarke: “‎The words mean, according to the eastern use of them, ‘Have no religious connection with him, nor act toward him so as to induce others to believe you acknowledge him as a brother.’” (= Kata-kata ini berarti, sesuai dengan penggunaan orang Timur tentang kata-kata itu, ‘Jangan mempunyai hubungan agamawi dengan dia, ataupun bertindak terhadap dia sehingga menyebabkan orang-orang lain percaya bahwa engkau mengakui dia sebagai seorang saudara’).

Jamieson, Fausset & Brown: “The greeting forbidden in the case of such is that usual among Christian brethren: not a mere formality, but a token of Christian brotherhood” (= Salam yang dilarang dalam kasus seperti itu adalah salam yang umum di antara saudara-saudara Kristen: bukan sekedar formalitas, tetapi suatu tanda dari persaudaraan Kristen).

Jamieson, Fausset & Brown: “‎Polycarp, disciple of John, told contemporaries of Irenaeus, who narrates it on their authority, that once when John was about to bathe, and heard that Cerinthus, the heretic, was within, he retired with abhorrence, exclaiming, Surely the house will fall in ruins since the enemy of the truth is there!” (= Polycarp, murid dari Yohanes, memberitahu orang-orang yang sejaman dengan Irenaeus, yang menceritakan hal ini berdasarkan otoritas mereka, bahwa pada suatu kali pada waktu Yohanes sedang mau mandi, dan mendengar bahwa Cerinthus, si orang sesat, ada di dalam, ia menarik diri dengan kejijikan, sambil berseru: ‘Pastilah rumah ini akan hancur karena musuh dari kebenaran ada di sini!’).

Barnes’ Notes: “This cannot mean that no acts of kindness, in any circumstances, were to be shown to such persons; but that there was to be nothing done which could be fairly construed as encouraging or countenancing them as ‘religious teachers.’ The true rule would seem to be, in regard to such persons, that, so far as we have contact with them as neighbors, or strangers, we are to be honest, true, kind, and just, but we are to do NOTHING that will countenance them as religious teachers. We are NOT to aid their instruction, (Prov 19:27); we are NOT to receive them into our houses, or to entertain them as religious teachers; we are NOT to commend them to others, or to give them any reason to use our names or influence in propagating error” [= Ini tidak bisa berarti bahwa tidak ada tindakan kebaikan, dalam sikon apapun, yang harus ditunjukkan kepada orang-orang seperti itu; tetapi bahwa tidak ada apapun yang harus dilakukan yang bisa ditafsirkan dengan jujur / adil sebagai memberi semangat atau menyetujui / mendukung mereka sebagai ‘guru-guru agamawi’. Peraturan yang benar berkenaan dengan orang-orang seperti itu, kelihatannya adalah bahwa sejauh kita mempunyai kontak dengan mereka sebagai sesama kita, atau orang-orang asing, maka kita harus jujur, benar, baik, dan adil, tetapi kita tidak boleh melakukan apapun yang akan menyetujui / mendukung mereka sebagai guru-guru agamawi. Kita tidak boleh membantu pengajaran mereka, (Amsal 19:27); kita tidak boleh menerima mereka di dalam rumah kita, atau menjamu mereka sebagai guru-guru agamawi; kita tidak boleh merekomendasikan mereka kepada orang-orang lain, atau memberi mereka alasan apapun untuk menggunakan nama atau pengaruh kita dalam menyebarkan kesalahan].

Catatan: Amsal 19:27 rasanya tak cocok.

Pikirkan: Bagaimana 2Yoh 10-11 dan tafsiran-tafsiran ini bisa cocok dengan GKRI EXODUS yang menggunakan orang sesat seperti Bambang Noorsena sebagai pembicara dalam acara mereka? 

7. Wah 18:2-4 - “(2) Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: ‘Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci, (3) karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya.’ (4) Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: ‘Pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya”.

Kejadian 3:14-15(3)

d) “keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’”.

1. Latar belakang penggambaran ini.

Jamieson, Fausset & Brown mengatakan bahwa latar belakang dari penggambaran ini adalah kebiasaan ular menggigit orang dari belakang pada kaki / tumitnya, dan kebiasaan manusia yang kalau membunuh ular selalu memukul / meremukkan kepalanya. Ia menambahkan bahwa kata kerja yang sama digunakan untuk menggambarkan serangan baik pada tumit maupun kepala, untuk menunjukkan bahwa kedua serangan itu tujuannya untuk menghancurkan. Tetapi, sekalipun gigitan ular pada tumit itu membahayakan, karena adanya bisa ular, itu bukannya tidak bisa disembuhkan. Sebaliknya, serangan yang meremukkan kepala ular betul-betul mematikan.

2. Kata ‘keturunannya’ di sini, seharusnya adalah ‘he’ [= dia (laki-laki)], dan secara khusus menunjuk kepada Yesus Kristus.

Kejadian 3: 15b: “keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’”.

KJV: ‘it shall bruise thy head, and thou shalt bruise his heel’ (= itu akan mememarkan kepalamu, dan engkau akan mememarkan tumitnya).

Tentang kata-kata ‘it shall bruise thy head’, Adam Clarke, dan juga banyak penafsir lain, mengatakan bahwa terjemahan yang benar bukanlah ‘it’ tetapi ‘he’. Jadi, terjemahan KJV ini salah; kata ‘it’ seharusnya adalah ‘he’, seperti dalam terjemahan RSV di bawah ini.

RSV: ‘he shall bruise your head, and you shall bruise his heel’ (= ia akan mememarkan kepalamu, dan engkau akan mememarkan tumitnya).

Dan Clarke menganggap bahwa kata ‘he’ [= dia (laki-laki)] ini menunjuk kepada Yesus Kristus.

Ini juga merupakan pandangan dari mayoritas penafsir, dan menurut saya memang harus diterima.

Jamieson, Fausset & Brown: “The seed of the woman who was to bruise the serpent’s head is connected with a singular verb and pronoun, and, denoting therefore an individual, points to Christ personally in a special and emphatic sense” (= Benih / keturunan perempuan yang akan mememarkan kepala ular dihubungkan dengan kata kerja dan kata ganti orang bentuk tunggal, dan karena itu menunjuk pada satu individu, menunjuk kepada Kristus secara pribadi dalam arti yang khusus dan ditekankan).

3. Apakah kata ‘her’ menunjukkan bahwa Kristus hanya diturunkan dari perempuan saja?

Adam Clarke, Albert Barnes, maupun Keil & Delitzsch menekankan kata ‘her’ dalam kata-kata ‘her seed’, dan menganggap bahwa Yesus hanya diturunkan dari perempuan (Maria), bukan dari laki-laki. Tetapi saya meragukan kebenaran hal ini, karena kata ‘her’ menunjuk kepada Hawa, bukan kepada Maria, dan saya merasa sebagai suatu pemaksaan penafsiran untuk mengatakan bahwa dari kata itu terlihat bahwa Yesus hanya diturunkan oleh orang perempuan, tanpa laki-laki.

Clarke dan Barnes juga menafsirkan Gal 4:4 sebagai berhubungan dengan Kejadian 3:15 ini.

Gal 4:4 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat”.

Tetapi menurut saya, Gal 4:4 ini tidak berhubungan dengan Kej 3:15, karena dalam Gal 4:4 ‘perempuan’ itu menunjuk kepada Maria, sedangkan dalam Kej 3:15 ‘perempuan’ menunjuk kepada Hawa.

4. Kapan kemenangan Kristus atas setan ini terjadi?

Clarke mengatakan bahwa pada saat kematian Yesus, setan menghancurkan tumitNya, dan Ia menghancurkan kepala setan. Beberapa penafsir lain juga hanya menekankan kematian Kristus, dan ini mengherankan saya.

Tetapi penafsir di bawah ini, menekankan bukan hanya kematian, tetapi juga kebangkitan, Kristus. Menurut saya, ini yang benar.

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “At the cross, Satan ‘bruised’ Christ’s heel; but because of His death and resurrection, Christ crushed Satan’s head and won a complete victory over him (Eph 1:17-23; Col 2:14-15)” [= Pada salib, Iblis mememarkan tumit Kristus; tetapi karena kematian dan kebangkitanNya, Kristus mememarkan kepala Iblis dan memenangkan kemenangan lengkap atasnya (Ef 1:17-23; Kol 2:14-15)].

Ef 1:17-23 - “(17) dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. (18) Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilanNya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukanNya bagi orang-orang kudus, (19) dan betapa hebat kuasaNya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasaNya, (20) yang dikerjakanNya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kananNya di sorga, (21) jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. (22) Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. (23) Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu”.

Kol 2:14-15 - “(14) dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib: (15) Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka”.

Saya menganggap bahwa sekalipun dalam kematian Kristus juga ada kemenangan, tetapi bagaimanapun itu terlihat sebagai suatu kekalahan. Baru kebangkitanNya yang betul-betul merupakan kemenangan mutlak atas maut dan setan.

Memang ada ayat yang seakan-akan menunjukkan bahwa pada saat mati Kristus betul-betul mengalahkan Iblis.

Ibr 2:14-15 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut”.

Tetapi ayat-ayat seperti ini harus ditafsirkan sambil mengingat bahwa kematian Kristus tak ada harganya seandainya tak ada kebangkitanNya.

1Kor 15:14,17 - “(14) Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. ... (17) Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”.

Bandingkan juga dengan kata-kata Calvin di bawah ini.

Calvin: “So then, let us remember that whenever mention is made of His death alone, we are to understand at the same time what belongs to His resurrection. Also, the same synecdoche applies to the word ‘resurrection’: whenever it is mentioned separately from death, we are to understand it as including what has to do especially with His death” (= Jadi, marilah kita mengingat bahwa kalau hanya disebutkan tentang kematian­Nya, kita harus mengartikan pada saat yang sama, apa yang termasuk dalam kebangkitanNya. Juga ‘synecdoche’ yang sama berlaku terhadap kata ‘kebangkitan’: kalau kata itu disebut­kan terpisah dari kematian, kita harus menafsirkan kata itu beserta apa yang termasuk dalam kematianNya) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter XVI, No 13.

Catatan: ‘synecdoche’ merupakan suatu gaya bahasa yang membicarakan sebagian tetapi memaksudkan seluruhnya, atau sebaliknya.

5. Janji kemenangan Kristus ini berlaku untuk Gereja / orang-orang percaya, dan karena itu kemenangan Kristus tidak berarti Gereja / orang-orang percaya tidak perlu ikut berperang. 

Jamieson, Fausset & Brown: “But although the prophecy does unquestionably refer to Christ’s personal conflict with Satan, and His victory over him as its culminating point, yet the Church - which is the spiritual body of which He is the Head - must also, in its ideal unity, be viewed as embraced in this prophetic intimation, which finds its accomplishment in all the conflicts of God’s people with the powers of darkness - whether the conflicts of the Church universal, of particular branches of it, or of private believers, issuing in their final triumph at that day when, ‘Satan being completely and forever bruised under their feet,’” (= Tetapi sekalipun nubuat ini tidak diragukan menunjuk kepada konflik pribadi antara Kristus dengan Iblis, dan kemenanganNya atas Dia sebagai titik puncak, tetapi Gereja - yang merupakan tubuh rohani terhadap mana Ia adalah kepala - harus juga, dalam kesatuannya yang ideal, dipandang sebagai tercakup dalam berita nubuat ini, yang mendapatkan penggenapannya dalam semua konflik umat Allah dengan kuasa kegelapan - apakah itu merupakan konflik-konflik dari Gereja universal, atau dari cabang-cabang tertentu darinya, atau dari orang-orang percaya secara pribadi, yang menghasilkan kemenangan terakhir mereka pada hari dimana ‘Iblis dimemarkan / dihancurkan sepenuhnya dan selama-lamanya di bawah kakimu’).

Catatan: bagian terakhir mungkin menunjuk pada Ro 16:20a - “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu”.

III) Pengaruh kata-kata Tuhan ini terhadap setan dan manusia.

1) Kepada setan.

Jamieson, Fausset & Brown mengatakan bahwa kata-kata ini pasti memberikan kekecewaan kepada Iblis, dan menghentikan kegembiraannya yang jahat karena telah berhasil menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Mungkin ia tidak bisa mengerti secara keseluruhan arti dari nubuat itu, tetapi ia pasti mengerti secara cukup untuk tahu bahwa nubuat itu menandakan suatu bencana yang fatal bagi dirinya.

Iblis mungkin mula-mula mengira bahwa dengan membujuk dan menjatuhkan Adam dan Hawa ke dalam dosa, dan membawa kematian kepada mereka, ia berhasil memusnahkan umat manusia. Tetapi nubuat itu ternyata menjanjikan ‘keturunan’ bagi perempuan itu (Hawa), yang menunjukkan bahwa umat manusia tidak musnah. Dan lebih dari itu nubuat itu menubuatkan peperangan antara dia dan keturunan perempuan itu, yang akan berakhir dengan kekalahannya.

Juga ia mungkin mengira bahwa dengan menjatuhkan manusia ia berhasil menyengsarakan mereka, tetapi ternyata dalam nubuat itu terdapat suatu berita yang positif bagi umat manusia, dimana Iblis akan dikalahkan / dihancurkan oleh keturunan Hawa, dan ini secara implicit menunjukkan bahwa sekalipun manusia menjadi berdosa, tetapi melalui keturunan perempuan itu akan ada pengampunan dan pemulihan.

2) Kepada manusia.

Hal-hal positif yang lain yang harus diperhatikan oleh manusia.

a) Pernyataan hukuman terhadap manusia diberikan setelah pemberian keyakinan kemenangan atas setan.

Jamieson, Fausset & Brown: “Sentence upon the man and the woman was deferred until after they had been assured of victory over their enemy” (= Penjatuhan hukuman / vonis terhadap laki-laki dan perempuan itu ditunda sampai setelah mereka diyakinkan tentang kemenangan atas musuh mereka).

Catatan: memang pernyataan hukuman kepada manusia baru diberikan dalam Kejadian 3:16-19.

b) Pada saat ini Tuhan bicara kepada ular demi manusia, karena kalau tidak, apa gunanya Tuhan bicara kepada seekor ular? Lalu apa gunanya untuk manusia?

1. Supaya manusia sadar betapa bencinya Allah terhadap dosa.

2. Supaya manusia mendapat penghiburan dalam penderitaan mereka, karena terlihat bahwa Allah masih baik terhadap mereka / mau berdamai dengan mereka.

3. Allah menjanjikan kemenangan manusia atas setan dalam peperangan itu. Ini mempunyai 2 tujuan:

a. Supaya manusia sadar bahwa setan adalah musuh besar mereka. Juga bahwa permusuhan dengan Iblis / setan merupakan persahabatan dengan Allah, dan merupakan sumber pengharapan bagi manusia.

Barnes’ Notes: “A second thing, however, was still more striking to the mind of man in the sentence of the serpent; namely, the enmity that was to be put between the serpent and the woman. ... When God, therefore, said, ‘I will put enmity between thee and the woman,’ this revulsion of feeling on her part, in which Adam no doubt joined, was acknowledged and approved. Enmity with the enemy of God indicated a return to friendship with God, and presupposed incipient feelings of repentance toward him, and reviving confidence in his word. The perpetuation of this enmity is here affirmed, in regard not only to the woman, but to her seed. This prospect of seed, and of a godly seed, at enmity with evil, became a fountain of hope to our first parents, and confirmed every feeling of returning reverence for God which was beginning to spring up in their breast” (= Tetapi ada hal yang kedua yang lebih menyolok lagi bagi pikiran manusia dalam hukuman terhadap ular; yaitu permusuhan yang akan diletakkan di antara ular dan perempuan itu. ... Karena itu, pada waktu Allah mengatakan, ‘Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini’, perubahan perasaan ini pada diri Hawa, dalam mana Adam pasti ikut serta, diakui dan disetujui. Permusuhan dengan musuh Allah menunjukkan suatu pengembalian persahabatan dengan Allah, dan mensyaratkan perasaan pertobatan yang baru terhadap Dia, dan menghidupkan lagi keyakinan terhadap firmanNya. Pengabadian dari permusuhan ini ditegaskan di sini, bukan hanya berkenaan dengan perempuan itu, tetapi juga dengan keturunannya. Prospek tentang keturunan ini, dan tentang keturunan yang saleh, yang bermusuhan dengan kejahatan, menjadi suatu sumber pengharapan bagi orang tua pertama kita, dan meneguhkan setiap perasaan tentang kembalinya rasa takut / hormat untuk Allah, yang mulai memancar dalam dada mereka).

b. Supaya dalam perang melawan setan, mereka yakin bahwa mereka akan menang.

The Biblical Illustrator (Old Testament): “Ver. 15. I will put enmity between thee and the woman. - The believer’s conflict with Satan: - I. THAT THERE IS A CONTINUAL CONFLICT BETWEEN SATAN AND EVERY BELIEVER IN JESUS CHRIST, WHOM HE REPRESENTED IN THE FIRST PROMISE, ACCORDING TO THE PURPOSE AND GRACE OF ALMIGHTY GOD. ... although the conflict may be fierce, and long, and stubborn, we are not permitted to doubt on which side the victory will fall” (= Kejadian 3: 15. ‘Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini’. - Konflik orang percaya dengan Iblis: - I. Bahwa di sana ada konflik yang terus menerus antara Iblis dan setiap orang percaya dalam Yesus Kristus, yang Ia gambarkan dalam janji yang pertama ini, sesuai dengan rencana dan kasih karunia dari Allah yang maha kuasa. ... sekalipun konflik itu bisa sengit / dahsyat, dan lama, dan bandel / sukar dihilangkan, kita tidak diijinkan untuk meragukan siapa yang akan menang).

Barnes’ Notes: “This clause in the sentence of the tempter is the first dawn of hope for the human family after the fall” (= Anak kalimat ini dalam hukuman / vonis dari si pencoba / penggoda adalah subuh / permulaan pertama dari pengharapan untuk keluarga manusia setelah kejatuhan).

Jamieson, Fausset & Brown: “But to the fallen pair, is the design of this prophecy is more obvious, so the effects of it are more easily traced. It was calculated in no ordinary degree to relieve and support their deeply agitated and desponding minds. It announced, in terms very figurative and enigmatical indeed, but still intelligible, that their Creator, though grievously offended by their disobedience, cherished purposes of mercy toward them. It gave them a strong and certain assurance that the sin which had unhappily entered into the world through their means, and the evils that flowed from it, would not continue forever. ... the drift of the sentence pronounced upon the serpent in the hearing of the fallen pair was exceedingly seasonable to them, and well calculated to afford them present comfort as well as future hope” (= Tetapi kepada pasangan yang telah jatuh ini, rancangan dari nubuat ini lebih jelas, demikian juga efek / akibat darinya lebih mudah untuk dilacak. Itu diperhitungkan dalam tingkat yang luar biasa untuk meringankan / mengurangi dan mendukung pikiran mereka yang digelisahkan / dikacaukan dan disedihkan / dipatahkan semangatnya secara mendalam. Itu diumumkan, memang dalam istilah-istilah yang sangat bersifat kiasan dan bersifat teka teki / membingungkan, tetapi tetap bisa dimengerti, bahwa Pencipta mereka, sekalipun disakiti hatiNya secara menyedihkan oleh ketidaktaatan mereka, memikirkan rencana belas kasihan terhadap mereka. Itu memberikan mereka suatu keyakinan yang kuat dan pasti bahwa dosa yang secara menyedihkan telah masuk ke dalam dunia melalui mereka, dan bencana-bencana yang mengalir melaluinya, tidak akan berlanjut selama-lamanya. ... aliran dari hukuman yang diumumkan kepada ular sambil didengar oleh pasangan yang telah jatuh itu sangat sesuai bagi mereka, dan diperhitungkan dengan baik untuk memberikan mereka penghiburan pada saat itu maupun pengharapan di masa yang akan datang).

Wycliffe: “Thus, we have in this famous passage, called the protevangelium, ‘first gospel,’ the announcement of a prolonged struggle, perpetual antagonism, wounds on both sides, and eventual victory for the seed of woman. God’s promise that the head of the serpent was to be crushed pointed forward to the coming of Messiah and guaranteed victory. This assurance fell upon the ears of God’s earliest creatures as a blessed hope of redemption” (= Demikianlah, kita mendapatkan dalam text yang terkenal ini, yang disebut PROTEVANGELIUM, ‘injil yang pertama’, suatu pengumuman tentang pergumulan yang berkepanjangan, permusuhan yang kekal, yang melukai kedua pihak, dan kemenangan akhirnya bagi keturunan perempuan. Janji Allah bahwa kepala ular akan diremukkan menunjuk ke depan pada datangnya Mesias dan menjamin kemenangan. Keyakinan ini jatuh pada telinga dari makhluk-makhluk Allah yang paling awal sebagai suatu pengharapan tentang penebusan yang diberkati).

Baca Juga: DOA YANG MENGUBAH NASIB (PRAY OF YABES): 1 Tawarikh 4:9-10

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “God’s words to Satan (v. 15) are called the protevangelium, ‘the first Gospel,’ because this is the first announcement of the coming Redeemer found in the Bible. To God’s Old Covenant people, this verse was a beacon of hope (Gal 4:1-4); to Satan, it was God’s declaration of war, climaxing in his condemnation (Rom 16:20); and to Eve, it was the assurance that she was forgiven and that God would use a woman to bring the Redeemer into the world (1 Tim 2:13-15)” [= Kata-kata Allah kepada Iblis (Kejadian 3: 15) disebut protevangelium, ‘injil yang pertama’, karena ini merupakan pengumuman pertama yang ditemukan dalam Alkitab tentang sang Penebus yang sedang mendatang. Bagi umat Allah dalam Perjanjian Lama, ayat ini adalah suatu cahaya pengharapan (Gal 4:1-4); bagi Iblis itu merupakan pernyataan perang dari Allah, yang mencapai puncaknya dalam penghukumannya (Ro 16:20); dan bagi Hawa itu merupakan keyakinan bahwa ia diampuni dan bahwa Allah akan menggunakan seorang perempuan untuk membawa sang Penebus ke dalam dunia].

KESIMPULAN. TAFSIRAN KEJADIAN 3:14-15

Kalau saudara adalah orang percaya, perang ini tidak akan pernah berakhir. Apakah saudara ikut perang atau tidak, musuh besar kita itu akan memerangi saudara. Dan memusuhi / memerangi dia menunjukkan saudara sebagai bersahabat dengan Allah. Karena itu, ikutlah dan bertekunlah dalam peperangan melawan setan ini. Tuhan menjamin kemenangan kita!
TAFSIRAN KEJADIAN 3:14-15.
-AMIN-


Pdt. Budi Asali, M. Div.
https://teologiareformed.blogspot.com/2019/01/tafsiran-kejadian-314-15.html#

RENCANA ALLAH BAGI ANDA

RENCANA ALLAH BAGI ANDA -J.I.PACKER


RENCANA ALLAH BAGI ANDA - J.I.PACKER. ADAKAH SESUATU YANG DISEBUT RENCANA? ORANG ZAMAN SEKARANG MERASA TERSESAT DAN TERHILANG. Kesenian, puisi, novel modern, atau perbincangan lima menit dengan orang yang peka akan membuat kita meyakini hal ini. Sepertinya aneh jika hal ini bisa terjadi pada zaman ketika pengendalian kita atas kekuatan alam jauh melampaui zaman-zaman sebelumnya. Namun hal ini sesungguhnya tidak aneh. Hal ini adalah penghukuman Allah karena kita mencoba untuk merasa terlalu betah tinggal di duma ini. 

Kita menolak untuk percaya bahwa tujuan hidup kita harus melampaui kehidupan masa sekarang. Bahkan sekalipun kita mencurigai kaum materialis karena menyangkali keberadaan Allah dan dunia lain, kita tidak mengizinkan keyakinan kita menjauhkan kita dari kehidupan berdasarkan prinsip-prinsip materialistis. Kita memperlakukan dunia ini seolah-olah ini satu-satunya rumah kita, dan kita berkonsentrasi penuh untuk mengaturnya demi kenyamanan kita. Kita menyangka kita bisa membangun sorga di bumi. 

Kini Allah menghakimi kita karena keduniawian kita. Pada abad silam kita mengalami dua perang dunia “yang panas,” dan satu perang “dingin,” yang dalam bidang tertentu masih berlangsung. Kita hidup pada zaman perang nuklir, rasisme, perang antarsuku, penipuan uang, terorisme, dan segala jenis pencucian otak. 

Mustahil kita dapat betah di dunia seperti ini. Dunia ini telah mengecewakan kita. Kita berharap kehidupan ini ramah tetapi kehidupan mengejek pengharapan kita, dan membiarkan kita kecewa dan frustrasi. Kita menyangka kita tahu apa yang harus diperbuat dalam hidup ini. Kini kita cemas apakah masih ada yang bisa kita perbuat dengannya. Kita menganggap diri bijak. Kini kita mendapati diri bagaikan anak-anak yang tersesat di kegelapan malam. 

Cepat atau lambat ini pasti terjadi. Dunia milik Allah tak pernah ramah terhadap mereka yang melupakan Penciptanya. Pemeluk agama Buddha yang mengaitkan ateisme mereka dengan pesimisme menyeluruh terhadap hidup, benar sampai batas ini. Tanpa Allah manusia kehilangan arah, dan kecuali ia menemukan Sang Empunya dunia ini, ia tidak akan dapat menemukan arah itu. Tidak heran jika orang yang tidak percaya merasa diri mereka tidak berarah dan menyedihkan. Tidak heran jika jiwa jiwa yang pahit dan frustrasi ini berpaling pada obat-obat terlarang dan minuman keras, atau jika para remaja menanggapi kekacauan di sekeliling mereka dengan bunuh diri. Allah menciptakan hidup, dan hanya Allah yang bisa memberi tahu maknanya. Jika kita mau memahami hidup di dunia ini, maka kita harus tahu tentang Allah. Dan jika kita mau tahu tentang Allah, kita harus kembali kepada Alkitab. 

BACALAH ALKITAB 

Jadi marilah kita membaca Alkitab – jika kita bisa. Tetapi bisakah kita? Banyak di antara kita yang kehilangan kemampuan ini. Kita membuka Alkitab dengan kerangka pikir yang membentuk batasan yang tak dapat ditembus. Meski terdengar mengejutkan, hal ini benar. Izinkan saya menjelaskan. 

Ketika Anda membaca sebuah buku, Anda memperlakukannya sebagai suatu kesatuan. Anda mencari plot atau alur utamanya, dan menelusurinya sampai akhir. Anda membiarkan pikiran si penulis menuntun Anda. Tidak peduli apakah Anda membiarkan diri “terbenam” sebelum menyerap isi buku tersebut atau tidak, Anda tahu bahwa Anda tak akan pernah memahaminya sampai Anda membacanya dari awal hingga akhir. Jika Anda ingin menguasai buku itu, Anda akan meluangkan waktu khusus untuk mempelajarinya dengan saksama dan tidak tergesa-gesa. 

Tetapi kita membaca Kitab Suci secara berbeda. Kita tidak terbiasa memperlakukannya sebagai sebuah buku. Kita melihatnya hanya sebagai kumpulan cerita dan pepatah yang tepisah. Kita begitu saja menganggap tulisan ini sebagai nasihat moral atau penghiburan bagi mereka yang bermasalah. Jadi kita membaca Alkitab dalam dosis ringan, beberapa ayat setiap kali baca. Kita tidak membaca keseluruhan kitab, apalagi membaca kedua Perjanjian tersebut secara menyeluruh. Kita menyusuri masa tua Yakub yang kaya raya, sambil menantikan sesuatu menyambar kita. Ketika ayat-ayat ini menenangkan pikiran atau memberi gambaran yang menyenangkan, kita yakin Alkitab telah menyelesaikan tugasnya. Kita menganggap Alkitab bukan sebagai buku, melainkan sekumpulan penggalan bacaan yang indah dan menguatkan, dan berdasarkan itulah kita menggunakannya. Akibatnya, dalam pengertian “membaca” secara umum, kita sama sekali tidak membaca Alkitab. Kita menganggap kita telah memperlakukan Kitab Suci dengan cara yang benar, tetapi kita ternyata salah. Ini hanyalah religiusitas semu, bukan religiositas sejati. 

Allah tidak ingin Alkitab dibaca hanya sebagai obat bagi pikiran yang sedang kesal. Pembacaan Kitab Suci dimaksudkan untuk membangunkan pikiran kita, bukan untuk menina-bobokannya. Allah meminta kita untuk mendekati Kitab Suci sebagai Firman-Nya – pesan yang ditujukan kepada ciptaan-Nya yang berakal budi dan bernalar, sehingga jangan harap dapat dipahami tanpa memikirkannya. “Marilah, baiklah kita berperkara [reason together, KJV]!” kata Allah kepada bangsa Yehuda melalui Yesaya (Yes. 1:18), dan Dia mengucapkan hal yang sama setiap kali kita membuka kitab-Nya. Dia mengajar kita berdoa memohon pencerahan ilahi ketika kita membaca. “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” (Mzm. 119:18). Doa ini meminta Allah memberikan pemahaman saat kita merenungkan Firman-Nya. Namun kita menghalangi Allah menjawab doa ini jika sesudah berdoa, kita tidak berpikir saat membaca. 

Allah ingin kita membaca Alkitab sebagai buku – sebuah kisah dengan sebuah tema. Saya tidak lupa bahwa Alkitab terdiri dari banyak bagian yang terpisah (tepatnya enam puluh enam bagian) dan sebagian bahkan merupakan gubahan (seperti Mazmur yang terdiri dari 150 doa dan himne). Sekalipun demikian, Alkitab dihasilkan oleh satu pikiran, yakni pikiran Allah. Alkitab berulang kali membuktikan kesatuan ini melalui keterkaitan yang mengagumkan antarbagiannya, bagian satu memperjelas bagian lain. Jadi kita harus membacanya sebagai satu kesatuan. Dan ketika membaca, kita harus bertanya: Apakah plot kitab ini? Apakah topiknya? Apakah isinya? Kecuali kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita takkan pernah melihat apa yang sedang ia katakan mengenai hidup kita. 

Ketika telah mencapai titik ini, kita akan menemukan bahwa pesan Allah kepada kita lebih radikal dan lebih memberi semangat, ketimbang apa pun yang bisa diberikan oleh religiositas manusia. 

TEMA UTAMA 

Apakah yang akan kita temukan jika kita membaca Alkitab sebagai satu kesatuan yang utuh dan dengan menyelidiki fokusnya? Inilah yang akan kita temukan: Alkitab tidak terutama berbicara tentang manusia. Tokoh utamanya adalah Allah. Dia-lah tokoh utama dalam drama ini, Sang Pahlawan dalam kisah Alkitab. Alkitab mensurvei karya-Nya di dunia ini, dulu, kini, dan kelak, berikut penjelasan dari para nabi, pemazmur, orang bijak, dan rasul. Tema utamanya bukan keselamatan manusia, melainkan karya Allah yang mempertahankan tujuan-Nya dan memuliakan diri-Nya dalam alam semesta yang berdosa dan kacau. Dia melakukannya dengan mendirikan kerajaan-Nya dan meninggikan Putra-Nya, dengan menciptakan suatu umat untuk menyembah dan melayani Dia, dan dengan membongkar dan menata ulang segala yang ada, yang berarti mencabut dosa dari dunia-Nya. 

Dalam perspektif yang lebih besar inilah Alkitab berbicara tentang karya Allah yang menyelamatkan manusia. Allah Alkitab lebih dari sekadar arsitek kosmos yang jauh, atau paman sorgawi yang mahaada, atau kuasa pemberi hidup yang impersonal. Allah melampaui semua allah pengganti yang mendiami pikiran abad kedua puluh. la hidup, hadir dan aktif di mana saja, “Mulia karena kepudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang mahsyur” (Kel. 15:11). Ia menamai diri-Nya – Yahweh (Jehovah: lih. Kel. 3:14-15; 6:2-3). Baik diterjemahkan menjadi “Akulah Aku” atau “Akulah Aku yang akan datang” (bahasa Ibrani mencakup kedua makna ini), nama ini memproklamasikan eksistensi-Nya dan kecukupan-Nya, kemahakuasaan-Nya dan kebebasan-Nya yang tak terikat apa pun. 

Dunia ini miliknya, Ia menjadikannya dan mengendalikannya. Ia “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya (Ef. 1:11). Pengetahuan dan kuasanya-Nya menjangkau hal terkecil: “Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya” (Mat. 10:30). “Tuhan bertakhta” – pemazmur menjadikan kebenaran yang tak tergoyahkan ini sebagai titik awal bagi puji-pujian mereka (lih. Mzm. 93:1; 96:10; 97:1; 99:1). Sekalipun kekuatan jahat menerjang dan kekacauan mengancam, Allah adalah Raja. Karena itu umat-Nya aman. 

Itulah Allah Alkitab. Dan Alkitab, dari Kejadian hingga Wahyu, mengumandangkan keyakinan bahwa ada rencana Allah di balik semua kebingungan yang tampak di dunia ini. Rencana tersebut berkenaan dengan penyempurnaan suatu umat dan pemulihan suatu dunia melalui perantaraan Yesus Kristus. Allah mengatur berbagai urusan manusia dengan mengingat tujuan ini. Sejarah manusia merupakan catatan dari penggenapan maksud Allah ini. 

Alkitab merincikan tahap-tahap rencana Allah. Allah mengunjungi Abraham, memimpinnya ke Kanaan, dan mengikut kovenan dengannya dan dengan keturunannya – “perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal…. Aku akan menjadi Allah mereka” (Kej. 17:7 dst.). Dia mengaruniai Abraham seorang putra, mengubah keluarganya menjadi suatu bangsa dan membawa mereka keluar dari Mesir menuju tanah milik mereka. Selama berabad-abad Ia mempersiapkan mereka dan dunia kafir untuk menyambut kedatangan Sang Juruselamat dan Raja, “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada akhir zaman. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah” (1Ptr. 1:20 dst.). 

Akhirnya, “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Gal. 4:4 dst.). Perjanjian kepada keturunan Abraham kini digenapkan pada semua orang yang percaya kepada Kristus: “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” (Gal. 3:29). 

Rencana Allah atas zaman ini adalah supaya Injil ini tersebar di seluruh dunia, dan “suatu kumpulan besar … dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” (Why. 7:9) dibawa untuk percaya kepada Kristus. Saat Kristus kembali, langit dan bumi akan dibangun ulang dengan luar biasa. Maka, tempat “Takhta Allah dan takhta Anak Domba itu,” akan menjadi tempat “hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya … dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama¬lamanya” (Why. 22:3-5). 

Inilah rencana Allah menurut Alkitab. Rencana ini tidak dapat digagalkan oleh dosa manusia, sebab Allah membuat suatu jalan sehingga dosa manusia dapat menjadi bagian dari rencana tersebut, dan perlawanan terhadap rencana Allah dipakai untuk memajukan kehendak-Nya. Kepada saudara-saudara yang menjualnya ke Mesir, Yusuf berkata, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kej. 50:20); “Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah” (Kej. 45:8). Salib Kristus adalah gambaran yang paling tepat dari prinsip ini. Dalam khotbahnya pada hari Pentakosta, Petrus berkata “Ia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh” (Kis. 2:23). Di bukit Golgota, Allah memakai dosa Israel sebagai sarana keselamatan dunia. Jadi, kefasikan manusia tak bisa menghalangi rencana Allah menebus umat-Nya. Melalui hikmat kemahakuasaan-Nya, hal ini justru menjadi sarana untuk menggenapi rencana itu. 

MENERIMA RENCANA ALLAH

Jadi, inilah Allah Alkitab: Allah yang memerintah, Penguasa atas peristiwa, yang melalui pelayanan umat-Nya yang tersendat-sendat dan kejahatan musuh-musuh-Nya, mengerjakan maksud kekal-Nya bagi dunia-Nya. Sekarang kita mulai melihat apa yang akan Alkitab katakan kepada angkatan kita yang merasa begitu tersesat dalam berbagai peristiwa yang sulit dimengerti. Ada rencana, demikian kata Alkitab. Ada makna dalam berbagai keadaan, tetapi semua ini luput dari perhatian Anda. 

Berpalinglah kepada Kristus. Carilah Allah. Serahkan diri Anda pada penggenapan rencana-Nya, maka Anda akan menemukan kunci kehidupan. Kristus berjanji, “Barangsiapa mengikut Aku, is tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Anda akan memiliki motivasi: kemuliaan Allah. Anda akan memiliki aturan: hukum Allah. Anda akan memiliki sahabat baik, hidup atau mati: Putra Allah. Anda akan menemukan jawaban atas keraguan akibat keadaan yang tanpa makna, bahkan jahat. Anda akan tahu bahwa “Tuhan bertakhta,” dan “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28). Dan Anda akan memiliki damai sejahtera. 

Altematifnya, kita bisa menentang dan menolak rencana-Nya, tetapi kita tidak akan luput darinya. Salah satu unsur rencana-Nya adalah penghukuman atas dosa. Mereka yang menolak Injil yang menawarkan kehidupan dalam Kristus, membawa diri ke dalam kekekalan yang gelap. Mereka yang memilih hidup tanpa Allah, akan hidup tanpa allah: Allah menghormati pilihan kita. Ini juga bagian dari rencana tersebut. Kehendak Allah digenapi dalam penghukuman mereka yang tidak percaya, seperti ia digenapi dalam keselamatan mereka yang beriman kepada Tuhan Yesus. 

Semua itu adalah garis besar rencana Allah, pesan inti tentang Allah yang Alkitab sampaikan kepada kita. Nasihat yang diberikan kepada kita adalah nasihat yang Elifas berikan kepada Ayub: “Berlakulah ramah terhadap Dia, supaya engkau tenteram, dengan demikian engkau memperoleh keuntungan” (Ayb. 22:21). Karena tahu bahwa “Tuhan bertakhta” dan mengerjakan rencana-Nya bagi dunia tanpa rintangan, kita bisa mulai menghargai baik hikmat dari nasihat ini, maupun kemuliaan yang tersembunyi di balik janji ini. 

“SEGALA SESUATU MENDATANGKAN KEBAIKAN”? 

“Tuhan bertakhta.” Inilah kebenaran dasar pertama yang harus kita sadari. Sang Pencipta adalah Raja dalam alam semesta-Nya. Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” (Ef. 1:11). Faktor penentu dalam sejarah dunia, tujuan yang mengendalikannya, dan kunci untuk menafsirkannya, adalah rencana kekal Allah. Ketuhanan Allah yang berdaulat merupakan dasar dari pesan Alkitab dan fakta mendasar iman Kristen, dan kita telah melihat bahwa di atasnya dibangun jaminan besar bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah.” Jika benar, ini adalah kabar yang teramat baik. 

Tetapi benarkah keyakinan ini? Klaim ini cukup menyulitkan jiwa-jiwa yang peka dan perenung. Klaim ini tidak mengizinkan demonstrasi rasional, dan ada banyak situasi yang membuat sulit menerimanya. Sebagian yang dialami oleh orang Kristen sangat menyakitkan dan membingungkan kita. Bagaimana mungkin segala kemalangan, keputusasaan, dan hambatan ini merupakan kehendak-Nya? Dalam menanggapi hal ini, kita cenderung menyangkali fakta bahwa Allah memerintah, atau menyangkali kebaikan sempurna dari Allah yang memerintah. Memang mudah untuk menarik kedua kesimpulan ini, tetapi mudah pula untuk keliru. Ketika kita tergoda untuk berbuat demikian, kita harus berhenti dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri kita. 

BEBERAPA RAHASIA 

Anehkah jika kita dibingungkan oleh apa yang sedang Allah kerjakan? Tidak! Jangan lupa siapa kita! Kita bukan allah; kita adalah ciptaan dan tidak lebih dari itu. Sebagai ciptaan, kita tidak-memiliki hak atau alasan untuk memahami segala hikmat Pencipta kita. Ia sendiri pemah mengingatkan kita: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu … Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah … rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8-9). Sang Raja juga menjelaskan bahwa Ia tidak berkehendak menyingkapkan semua rincian kebijakan-Nya kepada umat-Nya. Seperti yang Musa nyatakan seusai menjelaskan kehendak Allah yang disingkapkan kepada Israel: “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita … supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ul. 29:29). 

Prinsipnya adalah, Allah menyingkapkan pikiran dan kehendak-Nya sejauh yang kita perlu ketahui demi tujuan-tujuan praktis, dan kita harus menerima apa yang Ia singkapkan sebagai aturan yang lengkap dan cukup bagi iman dan kehidupan kita. Tetapi ada “rahasia” yang tidak Ia beritahukan. Dan setidaknya dalam kehidupan sekarang ini, Ia tidak berkenan kita menemukannya. Alasan di balik pemeliharaan Allah kadang masuk ke dalam kategori ini. 

Ayub contohnya. Ia tidak pernah diberi tahu tentang tantangan Iblis yang membuat Allah mengizinkan Ayub ditulahi. Ayub hanya tahu bahwa Allah yang mahahadir itu sempurna secara moral, dan menyangkali kebaikan-Nya dalam kondisi apa pun merupakan penghujatan. Ia menolak “mengutuki Allah” bahkan saat hidupnya, anak-anaknya, dan kesehatannya direnggut (Ayb. 2:9-10). Pada hakikatnya ia tetap menolak tindakan tersebut sampai akhir, sekalipun ucapan keliru dari teman-teman sombongnya yang bermaksud baik, membuatnya hampir gila dan terkadang memaksanya mengeluarkan kata-kata kasar tentang Allah (yang kemudian ia sesali). Walau bukan tanpa pergumulan, Ayub memegang teguh integritasnya selama masa ujian dan mempertahankan keyakinannya pada kebaikan Allah. 

Keyakinan Ayub terbukti. Ketika masa ujian berakhir, sesudah Allah mendatangi Ayub dengan penuh kemurahan untuk memperbarui kerendahan hatinya (40:1-5; 42:1-6) dan Ayub dengan taat berdoa bagi ketiga teman yang membuatnya hampir gila, “TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaaannya dahulu” (Ayb. 42:10). Yakobus menulis, “Kamu telah mendengar tentang Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan mahapenyayang dan penuh belas kasihan” (Yak. 5:11). Apakah rangkaian mala petaka yang menimpa Ayub berarti Allah telah turun takhta atau telah meninggalkan hamba-Nya? Tidak! Pengalaman Ayub membuktikan hal ini. Namun alasan mengapa Allah membuangnya ke dalam kegelapan tak pernah disingkapkan kepadanya. Jadi bolehkah Allah, demi maksud-Nya yang bijaksana, memperlakukan para pengikut-Nya yang lain seperti Ayub? 

Tetapi ada hal lain yang harus disampaikan. Ada pertanyaan kedua yang harus diajukan. 

Apakah Allah membiarkan kita sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang Ia kerjakan dalam memelihara dunia ini? Tidak! Ia memberi kita informasi lengkap tentang tujuan utama yang sedang Ia kerjakan, dan alasan positif utama dalam ujian yang dialami oleh orang Kristen. 

Apakah yang sedang Allah kerjakan? Ia sedang “membawa banyak orang kepada kemuliaan” (Ibr. 2:10). Ia akan menyelamatkan sekumpulan besar orang berdosa. Ia mengerjakan tugas ini sejak dimulainya sejarah. Ia menghabiskan waktu berabad-abad untuk mempersiapkan suatu umat dan suatu tempat dalam sejarah bagi kedatangan Putra-Nya. Kemudian Ia mengutus Putra-Nya ke dalam dunia agar Injil dapat ada, dan kini Ia mengirimkan Injil¬Nya ke dalam dunia agar Gereja dapat ada. Ia telah meninggikan Putra-Nya di atas takhta alam semesta, dan Kristus yang bertakhta kini mengundang orang berdosa datang kepada-Nya, memelihara mereka, membimbing mereka, dan pada akhirnya membawa mereka masuk ke dalam kemuliaan-Nya, bersama dengan Dia. 

Allah menyelamatkan manusia melalui Putra-Nya. Pertama-tama karena Kristus, Ia membenarkan dan mengadopsi mereka ke dalam keluarga-Nya begitu mereka percaya, dan dengan demikian memulihkan hubungan mereka dengan diri-Nya yang pernah putus karena dosa. Setelah hubungan ini pulih, Allah terus berkarya di dalam diri mereka untuk memperbarui mereka dalam citra Kristus, sehingga keserupaan keluarga bisa semakin tampak di dalam diri mereka. Pembaruan ini terus bertumbuh pada masa kini dan akan disempurnakan kelak, dan inilah yang Paulus sebut sebagai “kebaikan” yang untuknya segala sesuatu bekerja “bagi mereka yang mengasihi Dia … yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28). Seperti yang Paulus jelaskan, Allah ingin agar mereka yang Ia pilih dan panggil “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm. 8:28-29). Menurutnya semua pengaturan keadaan yang Allah lakukan, dirancang untuk menggenapi tujuan ini. “Kebaikan” yang untuknya segala sesuatu bekerja bukan berupa kemudahan atau penghiburan yang langsung dinikmati oleh anak-anak Allah (seperti yang terlalu sering dikatakan), melainkan kekudusan dan keserupaan mereka dengan Kristus. 

Apakah semua ini menolong kita memahami bahwa keadaan buruk bisa menjadi bagian dari rencana Allah? Tentu! Seperti ditunjukkan oleh penulis Surat Ibrani, hal ini memberikan secercah cahaya pada masalah yang ada. Kepada orang Kristen yang berkecil hati dan apatis karena tekanan kesulitan yang tak henti-hentinya, ia menulis: “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak’ Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? … Dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganj aran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? … Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang membenkan damai kepada mereka yang dilatih olehnya” (Ibr. 12:5-11, mengutip Ams. 3:11-12, penekanan ditambahkan). 

Jelas terlihat bahwa seperti Paulus, penulis Ibrani juga menyamakan “kebaikan” bagi orang Kristen, bukan dengan kemudahan dan ketenangan, melainkan dengan pengudusan. Bagian ini begitu gamblang sehingga tak perlu dikomentari, hanya perlu dibaca berulang kali setiap kali kita sulit untuk percaya bahwa kesukaran yang sedang menimpa kita (atau sesama orang Kristen), bisa merupakan kehendak Allah. 

TUJUAN DARI SEMUA INI 

Namun masih ada yang perlu dikatakan. Pertanyaan ketiga yang harus kita ajukan kepada diri kita adalah: Apakah tujuan akhir Allah saat berurusan dengan anak-anak-Nya? Apakah sekadar kebahagiaan mereka ataukah ada yang lebih daripada itu? Alkitab menunjukkan bahwa tujuan akhir itu adalah kemuliaan Allah sendiri. 

Tujuan akhir dari seluruh tindakan Allah adalah diri-Nya sendiri. Hal ini mutlak benar setara moral. Jika kita berkata bahwa tujuan tertinggi manusia adalah memuliakan Allah, bagaimana kita bisa berkata bahwa Allah memiliki tujuan yang berbeda? Sanggahan bahwa kita tak selayaknya menyebut Allah bertujuan memuliakan diri-Nya sendiri, lupa bahwa Allah dan manusia tidak setara. Sanggahan ini tidak menyadari bahwa jika manusia memuliakan diri dengan mengorbankan ciptaan lain, Allah yang mahapemurah memuliakan diri dengan memberkati umat-Nya. Tujuan-Nya menebus manusia adalah “puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” (Ef. 1:6, 12, 14). Ia ingin menunjukkan kemudahan-Nya (“kekayaan” kemurahan dan kemuliaan-Nya – “Kemuliaan” adalah keseluruhan sifat dan kuasa yang Ia singkapkan: Ef. 2:17; 3:16) dalam membawa orang-orang kudus-Nya kepada kebahagiaan terbesar mereka, yaitu kebahagiaan di dalam kebahagiaan-Nya. 

Tetapi bagaimanakah kebenaran ini, kebenaran bahwa Allah memuliakan diri-Nya ketika berurusan dengan kita, dapat menjelaskan masalah pemeliharaan? Kebenaran ini menolong kita melihat cara Allah menyelamatkan kita, dengan memberi tahu kita mengapa Ia tidak membawa kita ke sorga begitu kita percaya. Kita sekarang tahu bahwa Ia meninggalkan kita dalam dunia yang berdosa ini untuk diuji, dicobai, diterjang oleh masalah yang mengancam akan melumatkan kita – agar kita dapat memuliakan-Nya melalui ketabahan kita menanggung penderitaan, dan agar Ia dapat menunjukkan kekayaan kemurahan-Nya dan membangkitkan pujian kita saat Ia menopang kita dan membebaskan kita terns-menerus. Mazmur 107 merupakan deklarasi agung akan kebenaran ini. 

Apakah hal ini sulit dimengerti? Tidak bagi mereka yang telah belajar bahwa tujuan utama mereka di dunia ini adalah untuk “memuliakan Allah dan [dengan demikian] menikmati Dia selama-lamanya.” Inti dari agama sejati adalah untuk memuliakan Allah melalui ketabahan menderita dan memuji Dia atas pembebasan-Nya yang penuh kemurahan. Ini berarti menjalani hidup di dalam ketaatan dan ucapan syukur, baik saat berada di tempat yang empuk maupun kasar. Ini berarti mencari dan menemukan sukacita terdalam bukan dalam kenyamanan rohani, melainkan dalam menemukan bahwa Kristus dapat menyelamatkan kita dari setiap badai dan konflik. Ini berarti tahu pasti bahwa jalan Allah adalah yang terbaik bagi kebahagiaan kita dan bagi kemuliaan-Nya. Tak ada masalah pemeliharaan yang akan mengguncang iman orang yang telah sungguh-sungguh mempelajari semua ini. 

KEMULIAAN ALLAH 

Jadi, kita perlu memahami bahwa Allah Pencipta memerintah dunia-Nya demi kemuliaan-Nya sendiri. “Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm. 11:36); Dia sendirilah akhir dari segala karya-Nya. Dia tidak ada demi kebaikan kita, melainkan kita ada demi kemuliaan-Nya. Adalah hal yang wajar dan merupakan hak prerogatif Allah untuk menyenangkan diri-Nya, dan rencana baik yang Ia singkapkan adalah untuk membuat diri-Nya besar di mata kita. Ia berkata “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mzm. 46:11). Tujuan utama Allah adalah memuliakan diri-Nya. 

Karena kebenaran ini begitu penting dan sering kali sulit diterima, saya ingin mempertajam fokus akan hal ini dengan lebih memerincinya. Begitu kita mengerti konsep ini dengan jelas, segala hal lain dalam Kekristenan akan menjadi gamblang dan masuk akal. Selama kita belum yakin, iman alkitabiah lainnya akan tetap menyulitkan kita. Mari kita melihat kembali apa yang telah kita katakan tentang Pencipta kita. 

Kemasukakalannya. Kita awalnya akan sulit percaya bahwa Allah selalu bertujuan untuk memuliakan diri-Nya. Kita langsung merasa bahwa gagasan ini tidak layak dikenakan kepada Allah, bahwa kepedulian kepada diri sendiri tidak akan pemah sesuai dengan kesempurnaan moral Allah dan natur-Nya yang mahakasih. Banyak orang beradab yang peka secara moral akan terkejut oleh pemikiran bahwa tujuan utama Allah adalah memuliakan diri-Nya sendiri, dan mereka sangat menentang konsep ini. Bagi mereka, itu berarti menyamakan Allah dengan manusia yang jahat atau bahkan dengan Iblis itu sendiri! Bagi mereka, doktrin itu sesuatu yang imoral dan kasar, dan jika Alkitab mengajarkan demikian, Alkitab juga bersifat imoral dan kasar! Mereka sexing menarik kesimpulan ini saat menyoroti Perjanjian Lama. Tulisan yang menggambarkan Allah sebagai Pribadi “pencemburu” yang begitu memperhatikan “kemuliaan”-Nya, tak bisa dianggap sebagai kebenaran ilahi. Allah tidak seperti itu. Itu adalah penghujatan, bahkan sekalipun kita tidak sengaja berpikir seperti ini! Karena keyakinan ini dianut oleh banyak orang dengan sangat kuat, kita perlu mempertimbangkan keabsahannya. 

Kita mulai dengan bertanya: Mengapa keyakinan ini begitu kuat? Orang bisa membicarakan masalah-masalah teologis lain dengan tenang, tetapi terhadap doktrin ini muncullah protes yang begitu bernafsu dan kadang penuh kegeraman. Jawabannya tidak sulit dan terletak pada ketulusan moral si pembicara. Orang-orang ini peka terhadap keberdosaan dari sikap orang yang terus mementingkan diri. Mereka tahu bahwa hasrat menyenangkan diri merupakan akar kelemahan dan kekurangan, dan mereka berjuang keras untuk menghadapi dan melawannya. Jadi mereka menyimpulkan bahwa Allah yang berpusat pada diri pasti juga sama buruknya. Kerasnya mereka menolak gagasan bahwa Allah yang kudus meninggikan diri-Nya, mencerminkan kepekaan mereka terhadap kesalahan manusia yang melulu hanya memperhatikan diri sendiri. 

Apakah kesimpulan ini sah? Kami ulangi: kesimpulan ini mutlak salah. Jika manusia boleh bertujuan memuliakan Allah, salahkah Allah jika memiliki tujuan yang sama? Jika manusia tak mungkin memiliki tujuan yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah, bagaimana Allah mungkin? Jika manusia salah jika tujuannya kurang dari ini, demikian pula dengan Allah. Alasan manusia tidak boleh hidup bagi diri-Nya sendiri seakan-akan dia adalah Allah, adalah karena dia bukan Allah. Namun Allah tidak bersalah jika bertujuan memuliakan diri-Nya, karena Dia memang adalah Allah. Mereka yang bersikeras bahwa Allah tidak boleh memuliakan diri-Nya sesungguhnya meminta Dia berhenti menjadi Allah. Dan tidak ada penghujatan yang lebih besar dari menghendaki hal seperti ini. 

Jika penalaran dari sanggahan ini jelas keliru, mengapa hal ini diterima oleh banyak orang pada masa kini? Itu karena kita terbiasa menjadikan Allah menurut citra kita dan menganggap seolah-olah Dia dan kita setara. Dengan kata lain, kewajiban-Nya kepada kita sama dengan kewajiban kita kepada-Nya – seolah-olah Dia harus melayani dan membahagiakan kita dengan menyangkal diri, seperti yang merupakan kewajiban kita dalam melayani-Nya. Ini berarti menganggap Allah seolah-olah Dia adalah manusia, sekalipun mungkin manusia yang agung. Jika pemikiran ini benar, maka Allah yang berusaha memuliakan diri-Nya bisa disamakan dengan manusia yang paling buruk clan bahkan dengan Iblis itu sendiri.

Tetapi Pencipta kita bukan manusia, bukan pula manusia super yang mahakuasa, clan memikirkan Dia seperti ini berarti penyembahan berhala. (Anda tak perlu membuat patung Allah untuk menjadi penyembah berhala; gambaran mental yang keliru sudah bisa membuat Anda melanggar Perintah Kedua.) Jadi, kita jangan membayangkan bahwa kewajiban yang mengikat kita sebagai ciptaan, juga secara setara mengikat Dia sebagai Pencipta. Kebergantungan merupakan hubungan satu arah dan memiliki kewajiban satu arah. Anak harus patuh kepada orangtua, bukan sebaliknya! Kebergantungan kita kepada Sang Pencipta mengikat kita untuk mencari kemuliaan-Nya tanpa mewajibkan Dia memuliakan kita. Bagi kita, memuliakan Dia adalah kewajiban; bagi Dia, memberkati kita adalah kasih karunia. Satu-satunya hal yang mengikat Allah adalah apa yang Ia tuntut untuk kita lakukan, yaitu memuliakan diri-Nya. 

Jadi, kita menyimpulkan bahwa bukan suatu penghujatan jika kita berkata bahwa Allah berpusat pada diri-Nya sendiri; sebaliknya, tidak berkata demikian berarti fasik. Merupakan kemuliaan bagi Allah jika Ia menciptakan segala sesuatu bagi diri-Nya dan memakainya sebagai alat kemuliaan-Nya. Orang Kristen yang berpengertian akan menegaskan hal ini. Dia juga akan menegaskan bahwa merupakan kemuliaan jika ia diberi hak untuk menjadi alat bagi kemuliaan Allah. Tidak mungkin ada kemuliaan yang lebih besar bagi manusia selain memuliakan Allah. “Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah,” dan hanya dengan berbuat demikian manusia menemukan kemuliaannya sendiri. 

Kaum humanis, yang yakin manusia akan mencapai kemuliaan tertinggi dan menyerupai yang ilahi jika membuang rintangan agama, akan berkata bahwa meyakini bahwa manusia tak lebih dari sekadar alat untuk memuliakan Allah, berarti merampas nilai sejati dari hidup manusia. Namun, yang sebaliknya justru benar. Hidup tanpa Allah justru tidak berarti dan begitu ganjil. Saat kita berkata bahwa manusia tak lebih dari sekadar alat untuk kemuliaan Allah, kita juga berkata bahwa manusia tak kurang dari itu, sehingga menunjukkan betapa hidup ini berarti dan bernilai. Satu-satunya manusia di dunia yang menikmati kepuasan sejati adalah dia yang tahu bahwa satu-satunya kehidupan yang-bernilai dan memuaskan, adalah menjadi alat bagi kemuliaan Allah. Jalan menuju kebahagiaan sejati adalah dengan menjadi manusia sejati clan jalan menuju manusia sejati adalah dengan menjadi manusia yang sungguh-sungguh saleh. 

Maknanya. Apakah artinya ketika kita berkata bahwa tujuan utama Allah adalah kemuliaan-Nya? Bagi sebagian besar kita, frasa “kemuliaan Allah” tak berarti apa pun. Kepentingan apakah yang Kitab Suci berikan kepada frasa ini? Dalam Perjanjian Lama, kata yang diterjemahkan “kemuliaan” pada awalnya berarti bobot. Kemuliaan merujuk pada ciri-ciri yang membuat seseorang “berbobot” dalam pandangan orang lain, yang mendorong mereka menghormati dan menghargainya. Keberuntungan Yakub dan kekayaan Yusuf disebut “kemuliaan” (Kej. 31:1; 45:13). Istilah ini kemudian diperluas menjadi kehormatan. 

Saat merujuk kepada Allah, Alkitab memakai kata ini dengan makna ganda. Di satu sisi, kata ini merujuk pada kemuliaan yang Allah miliki – keindahan dan keagungan yang melekat pada seluruh penyingkapan Allah akan diri-Nya. Di sisi lain, ia merujuk pada pemuliaan yang diberikan kepada Allah – hormat dan sujud, puji-pujian dan penyembahan yang berhak Allah terima, satu-satunya tanggapan yang sesuai akan hadirat-Nya yang kudus. Yehezkiel 43:2 dst. menggambarkan kaitan ini: “Sungguh, kemuliaan Allah Israel datang … maka aku sembah sujud.” Kata kemuliaan di sini mengaitkan pemikiran akan kelayakan Allah untuk dipuji – keagungan kuasa dan hadirat-Nya – dengan penyembahan, yang merupakan tanggapan yang benar ketika Allah berdiri di hadapan kita dan kita di hadapan-Nya. 

Marilah kita sejenak memisahkan kedua pemikiran ini. 

Dalam pewahyuan, Allah memperlihatkan kemuliaan-Nya. Kemuliaan berarti Allah di dalam manifestasi-Nya. Penciptaan menyatakan diri-Nya. “Langit menceritakan kemuliaan Allah” (Mzm. 19:2). “Seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” (Yes. 6:3). Pada zaman Alkitab, Allah menyingkapkan hadirat-Nya melalui teofani yang menyatakan “kemuliaan”-Nya (awan berkilauan dalam tabut dan bait suci, Kel. 40:34, 1Raj. 8:10 dst.; penglihatan Yehezkiel tentang takhta dan roda, Yeh. 1:28; dll.) Orang percaya kini memandang kemuliaan Allah yang dengan sempurna “tampak pada wajah Kristus” (2Kor. 4:6). Di mana saja kita melihat Allah bertinclak, di sana kita melihat kemuliaan-Nya. Ia menampilkan diri-Nya sendiri di hadapan kita sebagai Pribadi yang kudus dan indah, dan kita diundang untuk tunduk dan menyembah. 

Kita memuliakan Allah. Kita melakukannya dengan menanggapi penyataan kasih karunia-Nya: 
Melalui penyembahan dan puji-pujian. “Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku (Mzm. 50:23); “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya” (Mzm. 96:8); “Memuliakan Allah karena rahmat-Nya” (Rm. 15:9). 
Dengan mempercayai firman-Nya. “Dasar firman-Mu adalah kebenaran” (Mzm. 119:160); “Segala firman-Mulah kebenaran” (2Sam. 7:28). 
Dengan mempercayai janji-janji-Nya (dengan cara ini Abraham memuliakan Allah, Rm. 4:20 dst.). 
Dengan mengakui Kristus sebagai Tuhan, “Bagi kemuliaan Allah Bapa!” (Flp. 2:11). 
Dengan menaati hukum Allah. “Buah kebenaran” adalah “memuliakan dan memuji Allah” (Flp. 1:11). 
Dengan tunduk pada penghukuman-Nya yang adil atas dosa-dosa kita (maka Akhan memuliakan Allah, Yosua 7:19 dst.). 7. Dengan berusaha mengagungkan Dia (yang berarti membuat diri sendiri kecil) dalam hidup kita sehari-hari. 

Sekarang kita bisa melihat makna dari pernyataan bahwa tujuan utama Allah adalah kemuliaan-Nya. Itu berarti kepada ciptaan-Nya yang berakal budi Ia bermaksud memperlihatkan kemuliaan hikmat, kuasa, kebenaran, keadilan, dan kasih-Nya, sehingga mereka mengenal Dia dan dengan mengenal Dia, memuliakan Dia selama-lamanya melalui kasih dan kesetiaan, penyembahan dan puji-pujian, kepercayaan dan ketaatan. Persekutuan yang ingin Ia ciptakan dengan kita adalah suatu relasi yang di dalamnya Ia memberikan kekayaan-Nya sepenuhnya, dan kits memberikan syukur setulus hati. Ketika Ia menyatakan diri sebagai Allah yang “cemburu” dan mengumumkan: “Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!” (Yes. 42:8; 48:11), Ia ingin menjaga kemurnian dan kekayaan dari relasi ini. Seperti inilah maksud Allah. 

Seluruh karya Allah adalah sarana bagi tujuan ini. Satu-satunya jawaban yang Alkitab berikan atas pertanyaan yang dimulai dengan: “Mengapa Allah … ?” adalah: “Demi kemuliaan-Nya.” Untuk inilah Allah memutuskan mencipta dan untuk inilah Ia memilih membiarkan dosa. Ia bisa saja menghindarkan manusia dari pelanggaran. Ia bisa saja menghalangi Iblis masuk ke Taman Eden atau meneguhkan Adam sehingga tidak mampu berbuat dosa (seperti yang akan Dia lakukan terhadap kaum tebusan di sorga). Tetapi Dia tidak melakukannya. Mengapa? Demi kemuliaan-Nya. Sering dikatakan bahwa yang termulia dalam diri Allah adalah kasih penebusan-Nya, yaitu kemurahan yang menyelamatkan orang berdosa melalui pencurahan darah Putra Allah. Tetapi tidak akan ada penyataan kasih yang menebus jika dosa tak terlebih dulu diizinkan. 

Mengapa Allah memilih untuk menebus? Sebenarnya Ia tak perlu berbuat demikian. Ia tidak wajib menyelamatkan kita. Kasih-Nya kepada orang berdosa, keputusan-Nya menyerahkan Putra-Nya bagi mereka, merupakan pilihan bebas yang tidak harus Ia buat. Mengapa Dia memilih untuk mengasihi dan menebus yang tak layak dikasihi? Alkitab memberi tahu kita: “Supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia … menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya…” (Ef. 1:6,12,14). 


Baca Juga: TAFSIRAN KEJADIAN 3:14-15

Tujuan yang sama juga menentukan berbagai tahap rencana keselamatan. Sebagian Ia pilih untuk hidup; yang lain Ia biarkan dalam penghukuman yang memang patut mereka terima. Ia “menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya … untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda belas kasihan-Nya” (Rm. 9:22 dst.). Ia membentuk jemaat-Nya dari sisa-sisa dunia, yaitu mereka yang “bodoh … lemah … tidak terpandang … dan hina.” Mengapa? “Supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah…. Seperti ada tertulis: `barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan”‘ (1 Kor. 1:29-31). Mengapa Allah tidak mencabut dosa dari orang kudus begitu mereka menjadi Kristen, seperti yang akan Ia lakukan begitu mereka mati? Mengapa Ia menguduskan mereka secara perlahan dan menyakitkan, sehingga seumur hidup mereka diganggu oleh dosa dan tak pernah mencapai kesempurnaan seperti yang mereka inginkan? Mengapa Ia memberikan perjalanan yang sulit di dunia ini? 

Jawabnya tetap: Ia melakukan semua ini demi kemuliaan-Nya, yaitu untuk menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan kita, sehingga kita belajar bersandar pada anugerah dan kuasa penyelamatan-Nya. “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor. 4:7). Sekali lagi untuk terakhir kali, marilah kita menyingkirkan gagasan bahwa Allah tak berdaya mengatasi apa yang terjadi. Allah “di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” (Ef. 1:11), dan segala sesuatu dapat teriadi karena Allah memilih untuk menjadikan mereka, dan alasan pilihan-Nya selalu demi kemuliaan-Nya.RENCANA ALLAH BAGI ANDA - 




J.I.PACKER.
https://teologiareformed.blogspot.com/2019/01/rencana-allah-bagi-anda-jipacker.html#

Tags